Baca Juga: Drama SPAM Pesawaran: Dendi Dituntut 11 Tahun, Kapan Sekwan Toto Sumedi Terseret ke Kursi Panas?
Meskipun Kementerian Perhubungan tengah membahas usulan anggaran Rp842 miliar untuk membenahi 1.600 perlintasan rawan secara nasional, masyarakat Lampung sudah habis kesabaran. Mereka menuntut tindakan nyata yang instan dari Pemprov Lampung dan PT KAI, bukan sekadar janji dalam ruang rapat yang hangat.
Berapa Banyak Lagi Nyawa untuk "Bisnis Besi" Ini?
Dua pelajar telah tiada, menambah daftar panjang dari 9 kasus kecelakaan serupa yang terjadi hingga April 2026. Kini, publik menunggu keberanian Kapolda Lampung dan ketegasan hukum untuk mengusut adanya dugaan kelalaian dalam penyediaan fasilitas publik ini.
Pertanyaan besar yang tersisa di benak masyarakat Lampung saat ini sangat sederhana namun menohok: Berapa banyak lagi nyawa anak sekolah yang harus dikorbankan demi kelancaran 'setoran' bisnis besi dan batu bara ke kas negara?
Upaya konfirmasi dan tuntutan transparansi akan terus digulirkan. Rakyat Lampung tidak butuh pejabat yang menghindar, mereka butuh flyover, palang pintu, dan jaminan bahwa anak-anak mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat.(AMRULLOH)
Artikel Terkait
Skandal Huntap Padangsidimpuan: Di Balik Seremoni Megah, 66 Persen Data Korban Banjir Bandang Diduga Fiktif
Mediasi Buntu, Oknum Kades ABH Resmi Diseret ke Ranah Hukum atas Dugaan Penipuan Ratusan Juta!
Pemprov Jabar Lepas 1.147 Mahasiswa Ikuti Program Probidik Gema Jabar, Bantu Guru Mengajar
Perpustakaan Gasibu akan Bertransformasi Menjadi Perpustakaan Digital
Peringati Milangkala Ke-349 Kabupaten Cianjur, KDM akan Tingkatkan Kualitas Pendidikan