Lebih lanjut, Bayu menyatakan bahwa jagung yang ditanam bukanlah bahan pangan yang dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat setempat.
Kondisinya tidak memenuhi standar kualitas dan tidak sesuai untuk kebutuhan konsumsi.
Dalam dialog tersebut, Bayu juga mengungkapkan ketidakjelasan terkait data yang disampaikan oleh Astrio Feligent, Jubir Muda TKN Prabowo-Gibran.
Dia mempertanyakan basis data yang digunakan oleh Astrio dan mencatat bahwa ada tendensi dari paslon 01 dan 03 untuk melontarkan data yang tidak tepat dan tidak terupdate terkait food estate.
Astrio Feligent, dalam responsnya, menyebutkan bahwa ada kecenderungan untuk memberikan data yang tidak tepat, terutama dari paslon 01 dan 03.
Dia mengakui bahwa pada awal 2023, terdapat keadaan di mana singkong tidak tumbuh karena dampak pandemi Covid-19. Namun, pada akhir tahun 2023, proses penanaman sudah dimulai dengan tujuh hektare jagung dan tiga hektare singkong.
Astrio mengundang pihak yang mengkritisi untuk datang ke Desa Tewai Baru guna memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai kondisi sebenarnya.
Dia menyatakan bahwa hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya debat yang tidak produktif dan meminta agar pihak-pihak yang mengkritisi dapat datang untuk melihat langsung ke lapangan.
Pertentangan data antara pihak Walhi dan pihak pemerintah menunjukkan perlunya keterbukaan dan transparansi dalam pelaksanaan program food estate di Kalimantan Tengah untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan program tersebut.
Artikel Terkait
Putri Handayani Jadi Orang Indonesia Pertama yang Sampai Puncak Kutub Selatan
Empat Kali Debat, Faigiziduhu Ndruru: Prabowo-Gibran Abaikan Etika dan Sopan Santun Sebagai Budaya Luhur Bangsa Indonesia
Faigiziduhu Ndruru: Pernyataan Presiden Jokowi Boleh Kampanye Membuat Publik Menolak Gibran Semakin Meluas
Lapas Kelas IIA Sibolga Kanwil Kemenkumham Sumut Bersama Kemenag Kota Sibolga Laksanakan Pembinaan Kepribadian Bagi Warga Binaan
Dandim 0808 Blitar Berikan Sosialisasi Netralitas TNI Pada Pemilu 2024 Kepada Persit KCK Cabang XXII