NAWACITAPOST.COM - Ketua Perkumpulan Pencinta Pariwisata Indonesia (P3I), Jeffry Yunus, menyampaikan pandangannya terkait batik yang tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai elemen strategis dalam memperkuat ekonomi nasional. Dalam konteks perekonomian yang terus bergerak di tengah ketidakpastian global, menurutnya, batik memainkan peran ganda yang sangat vital.
“Batik Indonesia, antara kekayaan budaya dan pendorong ekonomi nasional,” ujar Jeffry Yunus.
Pernyataan itu mencerminkan bagaimana batik mampu menembus batas fungsi estetika dan budaya. Batik, kata Jeffry, menjadi bagian integral dari roda perekonomian, terutama dalam kerangka penguatan UMKM.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2025 tercatat sebesar 4,8 persen. Meski sedikit terkoreksi dibandingkan tahun sebelumnya, angka ini tetap menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, hanya berada di bawah China.
Baca Juga: Prodi Teknik Sipil Universitas Nias Tawarkan Desain Rumah Gratis untuk Korban Kebakaran
Di tengah dinamika global yang masih diliputi ketegangan akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat dan ketidakpastian pasar, Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang mengesankan. Dalam kondisi seperti ini, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali menunjukkan taringnya.
Berdasarkan data Kementerian UMKM per Desember 2024, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit, mewakili 99,9 persen dari total pelaku usaha di tanah air. Kontribusinya terhadap PDB nasional menyentuh angka 61 persen atau setara Rp9.300 triliun.
Selain itu, UMKM juga menyumbang 15 persen dari ekspor nonmigas nasional, khususnya dari sektor makanan, kerajinan, dan tekstil. Batik menjadi salah satu subsektor UMKM yang terus berkembang dan memiliki pengaruh luas, baik dari sisi budaya maupun ekonomi.
Sejak diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda pada 2009, batik tidak hanya bertahan, tetapi juga berekspansi. Inovasi dalam desain, teknik, dan produk turunan menjadikan batik lebih dari sekadar kain tradisional. Kini, ia hadir dalam bentuk busana modern, dekorasi, dan produk gaya hidup lainnya yang diminati pasar domestik dan mancanegara.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-16, Pemkab Nias Barat Launching Aplikasi SINAR dan BUMD
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), nilai ekspor batik Indonesia pada 2023 mencapai US$164,95 juta. Dari angka tersebut, Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan kontribusi sebesar US\$85,09 juta atau lebih dari separuh total ekspor batik nasional. Hal ini menunjukkan bahwa batik Indonesia telah menembus pasar global secara signifikan, dan menjadi produk ekspor unggulan dari sektor UMKM.
Selain kontribusi dalam neraca ekspor, batik juga berperan dalam menyerap tenaga kerja, terutama di daerah sentra produksi seperti Pekalongan, Solo, Yogyakarta, dan Cirebon. Industri batik yang padat karya secara langsung melibatkan ribuan perajin, sebagian besar dari kalangan perempuan. Ini menjadikan batik sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi sekaligus pelestarian budaya.
Namun, di sisi lain, sektor pariwisata yang juga berkaitan erat dengan promosi batik mengalami fluktuasi. Data Badan Pusat Statistik mencatat, kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk utama pada Maret 2025 mengalami penurunan 2,18 persen dibanding tahun sebelumnya, atau sebanyak 841,03 ribu kunjungan.
Sebaliknya, perjalanan wisatawan nusantara naik 12,61 persen, mencapai 88,91 juta perjalanan. Sedangkan, jumlah perjalanan wisatawan nasional turun 15,92 persen atau 582,08 ribu perjalanan. Sementara, tingkat hunian hotel bintang juga menurun 9,85 poin secara tahunan, yakni mencapai 33,56 persen.
Artikel Terkait
Sat polres Siak Menangkap pelaku dugaan korban kekerasan seksual anak di bawah umur
Pemkab Siak Gelar Rakor Persiapan Porprov Riau ke XI Tahun 2026
Polda Metro Jaya Tertibkan 1.493 Atribut Ormas Selama Operasi Berantas Jaya 2025
FKP Hari Kedua: Komitmen Polri Tingkatkan Integritas dan Keterbukaan Melalui SPI
Bhabinkamtibmas Polsek Sukodono Tinjau Ketahanan Pangan di Kebun Pisang Ambon