NAWACITAPOST.COM - Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) menggelar bedah buku di sekretariat YKI, Matraman 10A, Jakarta Timur. Acara ini membahas novel berjudul "Injil Maria Magdalena: Yudas Iskariot dan Kemesiasan Yesus" karya Padmono SK, seorang jurnalis senior dan mantan Sekretaris Jenderal Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).
Novel ini mengangkat kisah pergumulan batin Maria Magdalena, menggambarkan kecintaannya pada Yesus, serta peran Yudas Iskariot dalam narasi tersebut. Padmono SK menjelaskan bahwa meskipun novel ini bersifat imajiner, ia didasarkan pada riset mendalam dari berbagai tulisan dan tentu saja Alkitab itu sendiri.
Ia menekankan bahwa meskipun bersifat fiksi, cerita ini bukanlah fiktif, melainkan sebuah refleksi dan pergulatan iman. “Tulisan buku saya ini sekalipun imajiner tetapi saya lakukan riset dari berbagai tulisan dan tentu Alkitab itu sendiri artinya bentuk fiksi tetapi bukan fiktif," Padmono.
Komisioner Perlindungan Perempuan Indonesia, Pendeta Silvana Apituley, memberikan catatan kritis terkait cover buku yang menggambarkan Maria Magdalena menunduk. Ia berpendapat bahwa ilustrasi tersebut kontradiktif dengan isi buku yang menggambarkan Maria sebagai perempuan yang kuat dan aktif.
Silvana mengapresiasi penulis yang berhasil menampilkan Maria Magdalena sebagai tokoh sentral, menantang pandangan patriarki yang sering mendominasi tafsiran terhadapnya.
Pendeta Gomar Gultom, mantan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), menanggapi novel ini dengan mengingatkan tentang The Gospel of Mary, sebuah injil gnostik dari abad ke-3. Ia mencatat bahwa meskipun novel ini menggambarkan pergumulan batin Maria Magdalena, hal serupa juga telah muncul dalam karya-karya sebelumnya seperti Jesus Christ Superstar dan The Last Temptation of Christ.
Namun, Gomar menilai bahwa Padmono SK tidak seberani Dan Brown dalam The Da Vinci Code, karena menggambarkan nafsu membara Maria Magdalena yang dengan halus ditepis oleh Yesus. Gomar juga memberikan tiga catatan atas novel ini.
Pertama, ia bersyukur atas penuturan penulis yang mengangkat budaya patriarki yang sangat mewarnai penulisan novel ini; kedua, menariknya Padmono mengangkat berbagai konflik internal para murid, yang mencerminkan tafsiran imajinatif penulis; dan ketiga, novel ini seakan hendak mengatakan bahwa Yesus juga mempertanyakan segala hal, yang membawa kebingungan dalam diri para murid dan Yesus sendiri.
Baca Juga: Jadwal Lengkap JALALIVE ISC 2025 di Banjarnegara, Bakal Dihadiri Evan Dimas dan Nadeo Argawinata
Dalam acara bedah buku ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk masyarakat umum, akademisi, dan praktisi media. Sekretaris Umum YKI Robert Sitorus, menyambut baik bedah buku tersebut sebagai upaya memperkaya pemahaman iman kepada Yesus Kristus. Sementara itu, Ketua Umum PEWARNA, Yusuf Mujiono, mengajak agar diskusi tentang buku ini dapat diselenggarakan secara rutin sebagai bentuk membangun literasi kepada masyarakat dan generasi selanjutnya
Artikel Terkait
BKN Ungkap Ribuan CPNS Formasi 2024 Mengudurkan Diri, Ada Apa?
Kapolres Siak Pimpin Apel Gladi Bersih Pengamanan Jambore Karhutla Riau 2025 di Minas
Gubernur Banten Andra Soni Lepas Keberangkatan Perdana Transjabodetabek Blok M – Alam Sutera
Daftar Instansi CPNS 2024 Yang Paling Banyak Mengundurkan Diri
Tanah Bergerak di Brebes, 114 Rumah Rusak Berat dan 508 Jiwa Terdampak