Senin, 20 Juli 2026

Mengenal Kepemimpinan Ali Baham Temongmere Lewat Buku “Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham"

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 28 Maret 2025 | 14:59 WIB
Bedah buku "Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham" yang berlangsung di Hotel Redtop, Jakarta, pada Kamis, 27 Maret 2025. (Istimewa)
Bedah buku "Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham" yang berlangsung di Hotel Redtop, Jakarta, pada Kamis, 27 Maret 2025. (Istimewa)

Baca Juga: Sering Dipakai Dedi Mulyadi, Ini Makna dan Jenis Iket Sunda  

Marlina juga menjelaskan bahwa kepemimpinan ABT tidak hanya dipengaruhi oleh garis keturunan, tetapi juga oleh kerja keras, disiplin, dan kecerdasannya sejak kecil. Ia selalu berprestasi di sekolah dan memiliki tekad yang kuat dalam membangun Papua Barat.

"Catatan utama dalam buku ini adalah bahwa membangun Papua harus dengan hati. Itu poin terpentingnya. Membangun dengan hati berarti memperhatikan budaya, alam, dan sumber daya yang ada. Buku ini tidak hanya menjadi referensi bagi IPDN, tetapi juga bagi Universitas Cenderawasih dan bahkan skala nasional," paparnya.

Sementara itu, Wolas Krenak menambahkan bahwa proses penulisan buku ini melibatkan banyak narasumber yang pernah berinteraksi langsung dengan ABT. Kisah-kisah yang dihimpun dalam buku ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya para pemimpin masa depan.

"Pak ABT selalu menekankan pentingnya persaudaraan yang kuat. Ini adalah contoh kebersamaan yang patut dicontoh oleh para pamong dalam meniti karirnya," jelasnya.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Marah, Eks Pegawai Hibisc Diminta Tanam Pohon Sebelum Dapat Kompensasi

Ia juga mengusulkan agar buku ini dibuat dalam versi bahasa Inggris, sehingga dunia dapat mengenal kepemimpinan Ali Baham Temongmere yang dibangun dari bawah.

"Sekarang tidak banyak buku yang bisa menjadi referensi tentang kepemimpinan yang baik. Buku ini bisa menjadi salah satu acuan dalam membangun semangat kepemimpinan yang berkualitas," katanya.

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh dari Papua dan Jakarta, termasuk Bernhard E. Rondonuwu dari Kemendagri, Amin dari DPRD Papua Barat, Jafar Ngabalin, Fajar Arif, serta pejabat lainnya. Di penghujung acara, sebelum berbuka puasa bersama, sesi diskusi dilanjutkan dengan tausiah atau kuliah tujuh menit (kultum).

 

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini