NAWACITAPOST.COM - Dedi Mulyadi dikenal dengan ciri khasnya mengenakan iket Sunda dalam berbagai kesempatan. Ternyata, iket yang dikenakannya bukan sekadar atribut, tetapi memiliki makna filosofis mendalam dalam budaya Sunda.
Iket Sunda bukan sekadar aksesori, melainkan bagian dari Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017. Secara bahasa, iket berasal dari kata "ikat" yang berarti sesuatu yang mengikat.
Namun, karena digunakan di kepala, kata tersebut mengalami perubahan bentuk menjadi "iket" dengan pengertian khusus sebagai ikat kepala.
Dalam budaya Arab, terdapat ikat kepala yang disebut 'Iqaal', yang memiliki akar kata sama dengan 'Aql', yang berarti akal. Maknanya adalah menjaga akal agar tetap fokus. Hal serupa juga berlaku dalam budaya Sunda, di mana iket mengandung makna pengendalian pikiran serta simbol kesopanan dan kebijaksanaan.
Buku "Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2017" menjelaskan bahwa iket terdiri atas dua suku kata, yakni "i" dan "ket". Suku kata "ket" dalam bahasa Sunda sering dikaitkan dengan sesuatu yang kuat atau lengket, seperti pada kata "pepereket" yang berarti berusaha sekuat tenaga. Dalam penggunaan sehari-hari, iket digunakan dengan pertimbangan keserasian, kesopanan, serta nilai adat yang kuat.
Makna iket dalam kebudayaan Sunda sangat dalam. Iket sering juga disebut "totopong", yang berasal dari kata "tepung" yang berarti pertemuan, baik antarindividu maupun pertemuan antara dua ujung tali. Maknanya adalah mengikat silaturahmi serta menjaga kebersamaan dalam masyarakat.
"Iket mengandung makna mengikat kepala. Kepala memiliki makna sebagai pemimpin tubuh dengan otak sebagai pusat pikiran. Dengan memakai iket, kepala sebagai organ penting dapat dilindungi," demikian dijelaskan dalam buku terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Dedi Mulyadi sendiri memiliki pemaknaan tersendiri terhadap iket. Dalam pernyataannya di KPU Jawa Barat, ia menegaskan bahwa iket bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari prinsip hidup orang Sunda. Ia mengutip ungkapan "Cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket", yang berarti hidup harus dipandu dengan kekuatan hati, rasa, dan cinta, sementara pikiran harus tetap fokus pada tujuan.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Marah, Eks Pegawai Hibisc Diminta Tanam Pohon Sebelum Dapat Kompensasi
Dedi menekankan bahwa iket juga melambangkan keteguhan dalam menjalankan amanah. "Anggaran harus fokus untuk rakyat, tidak boleh dipakai untuk kepentingan pribadi atau perjalanan yang tidak perlu," ujarnya dalam wawancara dengan detikJabar.
Iket Sunda memiliki beragam bentuk, yang dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu iket buhun (tradisional) dan iket modern. Iket buhun meliputi:
1. Barangbang Semplak: Memiliki kain berbentuk segitiga di bagian belakang kepala, menyerupai pelepah kelapa yang jatuh.
2. Julang Ngapak: Bentuknya menyerupai burung yang sedang terbang, sering digunakan oleh sesepuh dalam acara adat.
3. Parekos Jengkol: Memiliki bentuk segitiga dengan cula di bagian depan, sering digunakan oleh kalangan ningrat.
4. Parekos Nangka: Ciri khasnya adalah ujung kain yang menjuntai di bagian depan kepala.
Artikel Terkait
Informasi Terkini Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2025 UNP
Pupuk Kujang Konsisten Selenggarakan Mudik Gratis Lebaran 2025
Mendikdasmen Izinkan Study Tour, Dedi Mulyadi: Jangan Bebani Orangtua
Sidak Stasiun Gubeng, Armuji Pastikan Kenyamanan Pemudik Lebaran
Yuk! Manfaatkan Program Pemutihan Tunggakan Pajak Kendaraan Provinsi Banten