mix-news

Dipecat IDI, Dokter Terawan Dibela Wakil Rakyat

Jumat, 15 Juli 2022 | 14:04 WIB
Foto tengah : tangkapan layar kompas TV. Kolase

Jakarta, NAWACITAPOST. COM – Perseteruan atau masih adanya hubungan kurang harmonis antara Ikatan Dokter Indonesia dengan Letjen TNI (Purn) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad(K), sudah terjadi sejak tahun 2015, saat Terawan menjabat Kepala RSPAD Gatot Soebroto serta Dokter Kepresidenan Republik Indonesia.

Baca Juga : Menkumham RI Yasonna Laoly Memuji Cara DSA Dokter Terawan, Posisi IDI Harus Dievaluasi


Alasan IDI, karena terapi 'cuci otak' (Brainwash) menggunakan alat DSA yang dilakukan Terawan belum teruji secara ilmiah. Selain itu, Terawan juga melakukan publikasi dan promosi masif dengan klaim kesembuhan di media. Dan yang paling anyar melakukan promosi kepada masyarakat luas tentang Vaksin nusantara sebelum penelitiannya selesai.

Padahal terapi cuci otak merupakan inovasi metode medis Terawan yang kala itu menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto serta Dokter Kepresidenan Republik Indonesia.

Terawan mulai memperkenalkan inovasi itu sejak 2004 dan mulai banyak peminat tahun 2010. Cuci otak adalah istilah lain flushing atau Digital Substraction Angiography (DSA) yang dilakukan Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala. Cara ini diklaim berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke. Terawan mengklaim 40 ribu lebih pasien telah mencoba pengobatannya, dan sembuh tanpa gejala atau efek lainnya.

Terbukti banyak mantan Presiden, pejabat, pejabat aktif dan sejumlah tokoh nasional, bahkan pemimpin dari negara luar Indonesia,  berhasil disembuhkan oleh pengobatan terapi cuci otak ala Terawan. Dan itu tak bisa dipungkiri

Terkait DSA, sebenarnya dari sisi medis sangat menguntungkan pasiennya. Banyak masalah saraf otak yang ditangani dengan metode ini, termasuk adanya tumor.
Banyak pasien ternama alias pejabat dan publik figur disembuhkan oleh metode DSA.
Sedangkan terkait vaksin nusantara, Terawan melalui wawancara ekslusif bersama Rosi di Kompas TV belum lama berselang, menjelaskannya.

 

Vaksin nusantara sudah ada di jurnal internasional, selain itu juga melibatkan ahli kedokteran dibidangnya dari universitas.

Sekalipun ada penjelasan dari profesor yang tergabung di IDI ke DPR, Terawan hanya menjawab boleh itu professor, tetapi kalau bukan bidangnya, yaitu radiologi maka itu tidak tepat untuk menjelaskannya, tandasnya.

Bagi, suami dari Ester Dahlia, bahwa dalam dunia medical, tidak boleh kita menggunakan medical politik, karena itu bisa menyalahi aturan yang ada.

Walaupun jabatan sebagai Menteri Kesehatan hanya diemban selama setahun (2019 -2020), ayah dari Abraham Apriliawan Putranto tak pernah menyesalinya, dan tak perlu mencari kambing hitam. Baginya, jiwa kedokteran dan riset kesehatan untuk kesembuhan pasien, itu yang paling utama.

Terawan yang lulusan S-1 di Fakultas Kedokteran Univesitas Gadjah mada Yogyakarta (1990), S-2 Spesialisasi Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya (2004) , dan S-3 Doktor di Fakultas kedokteran Universitas Hasanuddin Makasar (2013) bersama tim kecilnya terus mengembangkan riset dibidang kesehatan, agar suatu saat nanti Indonesia tak perlu mengimpor banyak alat Kesehatan dan obat-obatan dari luar negeri.

Yang jelas IDI boleh memecat Terawan, tetapi DPR membelanya. Sebab, bagi wakil rakyat yang terhormat itu, Terawan adalah aset bangsa dan negara yang perlu mendapat perhatian ekstra di bidang Kesehatan.

Terkini

Mensos Risma Bantu Pengobatan 2 Warga Lampung

Kamis, 22 Juni 2023 | 20:56 WIB