NAWACITApost.com - Biaya perang antara Israel dan kelompok bersenjata Palestina Hamas diperkirakan mencapai setidaknya NIS 27 miliar ($6,8 miliar) atau setara Rp107,5 miliar. Nilai kerugian tersebut diprediksi oleh Bank Hapoalim yang dilansir dari The Times of Israel, Rabu (11/10/2023).
Dalam menghitung kerugian Israel, Bank Hapoalim memperhitungkan beberapa hal diantaranya panggilan signifikan dan masif dari 300.000 tentara cadangan yang harus meninggalkan pekerjaan mereka. Bahkan, pangilan darurat itu merupakan mobilisasi terbesar sejak Perang Yom Kippur 1973, ketika itu Israel memanggil 400.000 tentara cadangan.
Selanjutnya, pemulihan infrastruktur, perumahan, dan bagian dari tentara, ekspektasi kampanye yang panjang, dan biaya multi-tahun untuk merehabilitasi tentara yang cacat dan merawat keluarga tentara yang gugur. "Saat ini dapat diasumsikan (dalam perkiraan yang sangat kasar) bahwa biaya perang saat ini akan mencapai setidaknya 1,5% dari PDB, yang berarti peningkatan defisit anggaran setidaknya 1,5% dari PDB di tahun mendatang," kata kepala strategi Bank Hapoalim, Modi Shafrir.
Proyeksi Bank Hapoalim ini sebagian didasarkan pada biaya yang dikeluarkan Israel dalam perang-perang sebelumnya. Biaya Perang Lebanon Kedua pada tahun 2006, yang berlangsung selama 34 hari, diperkirakan mencapai NIS 9,4 miliar ($ 2,4 miliar), atau 1,3% dari PDB, menurut Institut Studi Keamanan Nasional (INSS). Biaya Operasi Cast Lead dari Desember 2008 hingga Januari 2009 diperkirakan mencapai NIS 3,3 miliar ($835 juta).
Perang Israel di masa lalu, seperti Perang Lebanon Kedua tahun 2006, melumpuhkan sebagian wilayah negara ini akibat rentetan roket, tetapi tidak berlangsung lama hingga mematikan seluruh perekonomian. Setelah rudal berhenti dan pasukan, tentara cadangan kembali ke rumah, ekonomi negara ini pada periode pasca-perang berhasil bangkit kembali dan pulih dengan relatif cepat.