Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan mengenai keadaan dunia yang saat ini dalam situasi sulit. Bahkan pada tahun 2023, keadaan dunia diperkirakan akan 'gelap' karena berbagai konflik yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi, pangan, dan energi.
Baca Juga: Presiden Jokowi Dorong Upaya Peningkatan Produksi Jagung Nasional
Jokowi mengemukakan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam Silatnas dan Ultah ke 19 Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/8/2022).
Jokowi mengatakan dirinya mendapat bisikan tersebut saat berbincang dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF), dan Kepala Negara G7 terkait kondisi dunia pada tahun 2023.
"Saya akan berbicara berbeda karena kita tau sekarang ini memang dunia pada posisi yang tidak mudah, pada keadaan yang sangat sulit," kata Jokowi.
Sebelumnya, Jokowi sempat menceritakan pertemuannya dengan sejumlah pimpinan negara pada ajang G7 beberapa bulan lalu. Jokowi sempat bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, petinggi lembaga internasional, hingga negara anggota G7.
"Saya tanyakan sebetulnya dunia ini mau ke mana? Beliau-beliau sampaikan, presiden Jokowi tahun ini kita akan sulit. Tahun ini kita akan sulit," kata Jokowi.
"Terus, kemudian seperti apa? Tahun depan akan gelap," cerita Jokowi.
Namun, Jokowi menegaskan hal tersebut tidak akan dialami oleh Indonesia. Jokowi menyebut, prediksi yang disampaikan sejumlah lembaga internasional hanya merujuk pada situasi dunia secara keseluruhan.
"Ini bukan Indonesia. Ini dunia. Hati-hati. Bukan Indonesia yang saya bicarakan tadi. Dunia. Semua negara pada keadaan yang tidak mudah," kata Jokowi.
Berdasarkan prediksi PBB, IMF, dan Bank Dunia, Jokowi mengatakan, akan ada 66 negara yang ekonominya akan menurun. Jokowi juga menyebutkan sebanyak 320 juta penduduk dunia sudah mengalami kelaparan akut.
"Sekarang sudah mulai satu per satu (negara ambruk). Angkanya adalah 9 lebih dulu, kemudian 25, kemudian 42, mereka detail mengkalkulasi. Apa yang dikhawatirkan betul-betul kita lihat dan sekarang ini 320 juta orang di dunia sudah berada pada posisi menderita kelaparan akut. Ini saya sampaikan apa adanya," jelasnya.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara seperti Singapura, Eropa, Australia, hingga Amerika anjlok. Kondisi ini akhirnya menyebabkan inflasi dan membuat harga barang menjadi naik.