Plt. Kepala Rutan Kelas I Depok, Muhamad Irvan Muayat. A.Md.I.P., S.H., M.H.
Sosok yang akrab di sapa dengan Irvan ini sudah empat bulan betugas di Rutan Depok, selama bertugas beliau selalu memastikan seluruh jajaran Rutan Depok dalam bertugas memberi pelayanan terbaik dan juga humanis.
Selain itu sosok murah senyum ini, juga memiliki sikap yang sangat tegas terhadap warga binaan pemasyarakatan (WBP) maupun jajarannya apabila tidak melakukan tugasnya sesuai SOP yang berlaku.
Terhadap WBP yang melanggar, tentunya akan diproses lebih lanjut dan menyerahkan sepenuhnya pemeriksaan kepada pihak yang berwajib, dalam hal ini menjadi kewenangan pihak kepolisian. Sementara untuk jajarannya yang kedapatan menyalahi aturan, akan ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku.
Lebih lanjut, Karutan Irvan terus melakukan sinergisitas dan koordinasi dengan berbagai Instansi terkait dan Aparat Penegak Hukum (APH) yang berada di wilayah Rutan Depok. Alhamdulillah, sejauh ini sinergisitas kita sangat baik antara pihak Kepolisian, Koramil, Pemadam Kebakaran (Damkar) juga PLN.
Dalam mencegah kejadian seperti yang terjadi di Lapas Tangerang, dengan pihak Damkar kita sudah melakukan langkah langkah pencegahan dengan menyiapkan alat pemadam kebakaran di tiap blok hunian, juga dengan PLN kita sudah memastikan seluruh instalasi dan jaringan listrik dalam keadaan berfungsi dengan baik, dan melakukan pembenahan di blok blok hunian dengan memasang panic button (alarm) jika terjadi kebakaran, jelas Irvan.
Berhubung standart Rutan dan Lapas di negara kita masih manual, kita terus melatih anggota jaga untuk bereaksi cepat dan tepat, melakukan penanganan jika terjadi sesuatu hal.Salah satu yang wajib mereka latih adalah mengetahui fungsi kunci dan membuka gembok kamar sel secara tepat dan cepat, termasuk melakukan rolling kunci dan perubahan kamar ruang tahanan tiap minggu, untuk mencegah kunci dipegang Tamping juga mencegah oknum memalsukan anak kunci gembok jika kamar yang dijaga itu terus, dan melakukan penggeledahan dua kali dalam satu minggu, dengan waktunya tidak ditentukan, lanjut Irvan.
Saat ini Rutan Depok, dihuni oleh 1.202 WBP yang berada di dalam dan 110 berada diluar dipihak penyidikan di Polresta, ini sesuai dengan surat edaran dari Ditjen PAS bahwa Lapas, Rutan hanya menerima tahanan dengan status A3, atau yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap.
Menjawab nawacitapost, perihal pelaksanaan Asimilasi yang dilakukan saat pandemi. Irvan sangat mengapresiasi dengan kebijakan yang dilakukan oleh Menkumham, dalam hal ini Pak Yasonna karena beliau sangat gencar memberikan asimilasi, meskipun kita semua tahu banyak pro kontra pada saat asimilasi dilakukan dan diberikan kepada WBP.
Sesuai Permenkumham nomor 32 Tahun 2020 tentang syarat napi yang berhak menerima asimilasi adalah napi yang mempunyai kekuatan hukum tetap dan hanya untuk napi pidana umum. Sementara untuk napi pelaku narkotika yg dipidana dibawah 5 tahun diberikan asimilasi jika sudah menjalani minimal setengah dari masa tahanan, lanjut Irvan.
Terkait Zero Halinar, yang sudah sangat jelas digaungkan oleh Pak Dirjen PAS, minggu lalu saya bersama petugas disini sudah mendeklarasikan, berkomitment, dan melaksanakan Zero Halinar dalam bentuk tanda tangan oleh semua petugas. Bahwa jika ada kedapatan yang menyalahi komitment berarti sudah melanggar komitment, dan tindakannya sangat jelas.
Dalam pelaksanaannya, goalnya kita ya melakukan penggeladahan dua hingga tiga kali seminggu dengan waktu yang tidak ditentukan dan hasilnya tidak ditemukan adanya hp dan narkoba dalam blok hunian. Sebetulnya itu sudah poin saya, tapi tidak membuat saya tinggi hati atau besar kepala, tutur Irvan.
Termasuk juga dalam hal, timpangnya jumlah petugas jaga yang tidak sebanding jumlahya dengan WBP, saya tidak menjadikan itu sebagai alasan klasik, sehingga penjagaan tidak dilakukan dengan maksimal, saya tidak mau beralasan seperti itu. Kepada petugas kita, kita lakukan terus penguatan, pengetatan, dan pengawasan supaya dia harus melaksanakan tugasnya SOP yang berlaku, tegas Irvan.
Untuk pelaksanaan hak hak WBP terkait kunjungan dalam masa pandemi ini, sejauh ini tidak kita tidak ada kendala. Meskipun kita membatasi dengan tidak dengan tatap muka tetapi fasilitasi dalam bentuk video call, kita menyediakan beberapa unit, di blok ada tiga unit, dan di blok atas ada lima unit. Sangat ironis apabila kita melarang hp, tapi tidak memberikan fasilitas.
Rutan Depok melaksanaan pembinaan terhadap WBP, dalam hal meningkatkan skill WBP agar kelak bisa dimanfaatkan oleh WBP setelah selesai menjalani masa tahanan. Meskipun sebenarnya klasifikasi dan tupoksinya itu harusnya dilakukan di Lapas, Rutan Depok sendiri dihuni oleh 900 WBP inkrah 300 WBP dengan status tahanan. Namun demikian, kita tetap melaksanakan pembinaan kepribadian dan melakukan kerjasama dengan beberapa yayasan, dan WBP yang sudah dilaksanakan pembinaan akan mendapatkan sertifikat yang dapat digunakan untuk permohonan asimilasi.
Selain pembinaan juga dilaksanakan pelatihan kerajinan tangan, salah satu hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh WBP adalah lukisan siluet. Kita juga punya pengolahan kopi krabu (kreasi anak bui) yang dikemas dalam kemasan shacet, saat ini pemasarannya masih di internal melalui koperasi dan rencananya, dan kedepan akan kita kembangkan lagi, semua Lapas, Rutan sudah mencoba nikmatnya kopi khas rutan depok ini.
Dari 1.200 WBP yang mendominasi adalah 60% kasus narkotika, dan saat kebijakan asimilasi rumah banyak terkendala dengan kartu identitas dan keluarga penjamin. Berkat koordinasi dengan Ka.Bapas Bogor dan Jakarta bisa teratasi dengan baik.
Demikian halnya, terkait pandemi covid-19 meskipun Rutan Depok over kapasitas 200 orang WBP, sejauh ini Tidak ada WBP yang terpapar covid 19. Karna ketika tahanan baru masuk kita melaksanakan mekanisme protokol kesehatan yang sangat ketat, dengan karantina 14 hari di ruang isolasi, ada di klinik buat yang terpapar, dan di swab kembali setelah masa karantina untuk memastikan hasilnya negatif.
Untuk pelaksanaan vaksinasi, pada gelombang pertama di Bulan Juli dan Agustus berhasil melakukan vaksinasi 1.395 WBP, tidak ada resistensi baik dari ASN maupun WBP. Malah WBP merasa sangat bersyukur dengan adanya pelaksanaan vaksinasi, dimana kalau diluar mereka belum tentu akan mendapatkan pelayanan vaksin. Dalam pelaksanaan vaksinasi ini kita bekerjasama dengan Rumah Sakit Brimob dan Dinkes Kota Depok.
Pada vaksinasi tahap kedua awal Oktober hanya ada 1.200 WBP yang di vaksin, tentunya berkurang karena ada yang menjalani asimilasi rumah. Koordinasi dengan Disdukcapil setempat, untuk melaksanakan pendataan bagi WBP yang tidak ada identitas dan memberikan kartu vaksin untuk mendapatkan pelayanan vaksin kedua di luar.
Menterjemahkan bentuk birokrasi melayani yang selalu digaungkan oleh Pak Menteri Hukum dan HAM, bagi kami yang pertama adalah dalam melakukan pelayanan tidak ada pungutan biaya dalam bentuk apapun dan transparan dalam melayani. Petugas yang melayani betul betul terbaik dan yang profesional dibidangnya, kita
fokus pada SDM. Salah satu bentuk transparansi kepada WBP, dengan scan sidik jari disana bisa melihat dengan jelas sejauh mana status dari WBP itu sendiri, terang Irvan.
Bagi Irvan sendiri, merupakan sebuah kehormatan mendapat kunjungan dari Nawacitapost. Sejauh ini baru baca dan dengar, apa itu nawacita, sangat mengapresiasi baru pertama ketemu langsung bertemu bisa langsung akrab seperti ini, tentunya bukan hal yang mudah memang, tapi patut diacungi jempol, sembari berharap apapun yang direncanakan ke depan, baik itu Rutan Depok maupun Nawacita bisa terlaksana dengan baik dan sukses, tutup Irvan.
(Oktav/Kornelius)