Bahkan dalam buku berjudul Pendanaan Terorisme di Indonesia, yang ditulis Dr. Irjen Polisi (Purn) Benny Mamoto eks pejabat di BNN dan BNPT disebutkan sumber keuangan Jamaah Islamiyah adalah infak, sedekah, zakat, sumber-sumber yang halal (bagi JI), dan sumber-sumber lain yang dapat diterima berdasarkan ijtihad.
Masih kata Benny, organisasi teroris yang sekarang (termasuk JI) semua kegiatannya terkonsep. Untuk pendanaan, mereka memiliki kebun karet dan kelapa sawit. Juga, sudah punya bengkel senjata.
Dana 124 miliar rupiah itu JI bisa banyak membeli bahan-bahan untuk membuat bom dan senjata. Jika ingin melihat betapa dahsyatnya, mematikannya, bom yang mereka buat. Maka lihat saja peristiwa bom Bali 1 pada 12 Oktober 2002 dengan korban tewas sejumlah 202 orang, bom Bali 1 ini dilakukan oleh kelompok JI yang sebagian dari mereka adalah alumni Afghanistan.
Terkait hal lainnya, Tim Densus 88 juga berhasil mengungkap dari pelaku aksi teroris JI yang ditangkap, bahwa JI punya massa aktif sekitar 6000 dan terus bertambah tiap tahunnya.
Ternyata hal yang disampaikan Benny sejalan dengan penjelasan eks Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri, Birgjen Dedi Prasetyo dalam keterangannya di Mabes Polri Jakarta Selatan, Senin, 1 Juli 2019. Dedi menyebut kelompok JI tidak aktif seperti kelompok Jamaah Ansarut Daulah (JAD). Kelompok JI, saat itu dan saat ini aktif memperkuat pondasi ekonomi, perekrutan anggota dan pelatihan untuk membangun khilafah di Indonesia. Yaitu bercita-cita membentuk negara Islam di Asia Tenggara. Sudah otomatis penerapan syariat Islam diberlakukan nantinya, jika JI berkuasa di Indonesia.
Mereka semua sakit jiwa tetapi mereka tidak bodoh, karena mereka mampu mengumpulkan dana yang sangat besar untuk aksi teroris mereka dan salah satunya menipu masyarakat lewat kotak amal infaq teroris.
Untuk itu tebalkan dan perkuat aksi empat pilar Indonesia : Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika