gaya-hidup

Waspada! Lima Kebiasaan Buruk Ini Bisa Berujung Cuci Darah Seumur Hidup

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:04 WIB
Ilustrasi pasien yang lagi cuci darah (Ai)

Jika kebiasaan ini berlangsung lama, risiko terjadinya resistensi insulin dan diabetes tipe 2 semakin besar. Diabetes merupakan salah satu penyebab terbesar gagal ginjal di seluruh dunia.

Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Akibatnya, kemampuan ginjal dalam menyaring limbah dari darah menjadi terganggu. Kerusakan ini sering terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas, sehingga banyak penderita tidak menyadarinya hingga kondisi sudah parah.

2. Malas Minum Air Putih

Air putih memiliki peran penting dalam membantu ginjal membuang limbah dan racun melalui urine. Ketika seseorang jarang minum air, tubuh dapat mengalami dehidrasi kronis.

Dalam kondisi kekurangan cairan, aliran darah ke ginjal menurun. Ginjal pun dipaksa bekerja lebih keras untuk menyaring darah dengan cairan yang terbatas. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal.

Baca Juga: Sosok Putra Subang yang Membawa Semangat Lembur Diurus, Kota Ditata ke Gedung Sate

Dehidrasi juga meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal, yang jika tidak ditangani dapat menyebabkan sumbatan dan infeksi. Kombinasi berbagai faktor ini bisa mempercepat penurunan fungsi ginjal hingga berujung pada gagal ginjal.

Kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda, tetapi secara umum orang dewasa disarankan mengonsumsi sekitar 2 liter air per hari, atau menyesuaikan dengan aktivitas dan kondisi tubuh.

1. Terlalu Sering Mengonsumsi Obat Pereda Nyeri

Kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa pengawasan medis menjadi salah satu faktor risiko terbesar kerusakan ginjal. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen dan sejenisnya memang efektif meredakan nyeri dan peradangan. Namun, penggunaan jangka panjang atau dosis berlebihan dapat mengganggu aliran darah ke ginjal.

Obat pereda nyeri tertentu dapat mengurangi produksi zat yang membantu menjaga aliran darah tetap stabil di ginjal. Akibatnya, jaringan ginjal bisa mengalami kerusakan. Risiko ini semakin tinggi pada orang yang sudah memiliki penyakit ginjal, diabetes, hipertensi, atau berusia lanjut.

Baca Juga: Mengenal Sosok Gubernur DKI Jakarta Asal Kediri Jawa Timur

Kerusakan ginjal akibat konsumsi obat secara berlebihan sering kali terjadi secara diam-diam dan baru terdeteksi saat fungsi ginjal sudah menurun drastis. Jika ginjal sudah tidak mampu lagi menyaring darah dengan baik, pasien mungkin harus menjalani terapi cuci darah secara rutin.

Pentingnya Deteksi Dini dan Perubahan Gaya Hidup

Gagal ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Gejala seperti mudah lelah, bengkak pada kaki, penurunan nafsu makan, hingga perubahan jumlah urine biasanya baru muncul ketika kondisi sudah cukup parah.

Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi langkah utama dalam mencegah kerusakan ginjal. Menghindari kebiasaan menahan kencing, membatasi konsumsi garam dan gula, mencukupi kebutuhan cairan, serta menggunakan obat sesuai anjuran dokter merupakan langkah sederhana namun sangat penting.

Baca Juga: Waspada! Inilah 5 Hewan Paling Mematikan di Dunia Hingga Satu Juta Nyawa Setiap Tahun

Pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi penderita hipertensi dan diabetes, juga sangat dianjurkan untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak dini.

Halaman:

Tags

Terkini