Senin, 28 September 2026

Didik Bledek: Rock Surabaya Bukan Kehabisan Musisi, Tapi Kehabisan Venue

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Senin, 28 September 2026 | 16:28 WIB
Vokalis band rock Big Panzer sekaligus anggota DPRD Surabaya, Tri Didik Adiono atau akrab disapa Didik Bledek
Vokalis band rock Big Panzer sekaligus anggota DPRD Surabaya, Tri Didik Adiono atau akrab disapa Didik Bledek

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM – Musik rock di Surabaya bukan kehilangan talenta. Persoalannya justru sederhana, tetapi serius: panggung untuk mereka semakin sulit ditemukan.

Hal itu disampaikan vokalis band rock Big Panzer sekaligus anggota DPRD Surabaya, Tri Didik Adiono atau akrab disapa Didik Bledek. Ia menilai minimnya venue menjadi salah satu hambatan utama perkembangan musik rock di Kota Pahlawan.

Menurut Didik, Surabaya sebenarnya pernah memiliki sejumlah ruang yang cukup dikenal sebagai tempat pertunjukan musik, seperti Taman Remaja Surabaya atau yang kini dikenal sebagai Surabaya Expo Center serta kawasan Tambaksari.

Namun, seiring waktu, pilihan venue untuk menggelar pertunjukan musik, khususnya rock, semakin terbatas.

“Yang utama adalah sarana. Sarana di Surabaya ini hampir tidak ada,” kata Didik kepada Jatimupdate, Senin (28/9).

Padahal, menurut dia, potensi musisi rock di Surabaya belum habis. Perubahan tren dan selera musik tidak otomatis membuat penggemar maupun pelaku musik rock menghilang.

“Kalau pemain, kalau grup band sih banyak sebetulnya di Surabaya itu. Potensinya banyak,” tegasnya.

Karena itu, Didik mendorong Pemkot Surabaya bersama stakeholder musik, komunitas, penyelenggara event dan para musisi untuk kembali menyediakan ruang bagi generasi muda.

Bukan hanya ruang untuk tampil, tetapi juga ruang untuk berproses, berlatih dan memperkenalkan karya.

Bukan Cuma Venue, Studio Rekaman Juga Jadi Persoalan

Persoalan lain yang disoroti Didik adalah akses terhadap fasilitas rekaman.

Ia mengakui Surabaya memiliki tempat recording. Namun, menurutnya, ekosistem industri musik nasional masih sangat terkonsentrasi di Jakarta.

Kondisi geografis tersebut, kata dia, ikut memengaruhi kemudahan musisi dalam membangun jaringan dengan industri rekaman.

“Kenapa potensi musik itu kebanyakan dari Bandung? Karena Bandung itu untuk recording lebih dekat ke Jakarta,” ujarnya.

Didik mencontohkan perjalanan sejumlah grup musik yang berkembang melalui jaringan industri musik Jakarta. Ia menyebut Dewa sebagai salah satu grup yang menurutnya lebih cepat berkembang karena memiliki akses dan kedekatan dengan ekosistem musik di Jakarta.

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini