“Kalau ini kategori kaligrafi kontemporer,” terang Agung.
Untuk menjaga kualitas penilaian, Bank Indonesia melibatkan dewan juri yang dinilai memiliki kompetensi di bidang kaligrafi. Dua nama yang dipercaya menjadi juri yakni Ustaz Sulaiman dan Ustaz Muhammad Yasmin Hanani.
“Memang kami melihat dewan juri yang mempunyai kapasitas untuk penilaian kaligrafi. Kami mencari ustaz ataupun dewan juri yang kami nilai mumpuni untuk menjadi penilai sehingga hasilnya juga bisa fair dan kualitasnya baik,” ungkap Agung.
Dari Kaligrafi ke Ekonomi Syariah
Bagi Bank Indonesia, lomba kaligrafi merupakan bagian dari rangkaian Festival Syariah 2026 yang lebih luas. Kreativitas pelajar diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai dan ekosistem ekonomi syariah kepada generasi muda.
Agung berharap berbagai kegiatan dalam Festival Syariah mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengembangan ekonomi syariah, khususnya di Jawa Timur.
“Harapannya kegiatan Festival Syariah ini dan juga ada berbagai lomba, ini menggiatkan ataupun mendorong warga ataupun masyarakat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa ataupun di Jawa Timur, bisa saling peduli dengan ekonomi syariah dan juga untuk mengembangkan ekonomi syariah,” katanya.
Dengan demikian, kaligrafi tidak berhenti sebagai perlombaan seni. Di balik goresan huruf dan ayat, ada upaya mempertemukan nilai keislaman, kreativitas generasi muda dan pesan ekonomi syariah dalam satu ruang.
“Jadi, kami dukung semua, se-Jawa Timur ini,” pungkas Agung. ***