daerah

ARTSUBS Digelar di Alun-Alun Surabaya, PAD-nya Berapa? Jangan Sampai Seni Mengorbankan Estetika Ruang Publik

Jumat, 18 September 2026 | 15:38 WIB
Pemandangan penutupan kolam di area depan alun-alun Suroboyo, balai kota Surabaya sebelum pembukaan pameran ARTSUBS 2026

 

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — ARTSUBS 2026 segera membuka perhelatan seni rupa kontemporer di kompleks Balai Pemuda atau Alun-Alun Surabaya. Digelar mulai 19 September hingga 8 November 2026, pameran ini menghadirkan lebih dari 100 seniman dengan mengusung tema “Border, Threshold, Beyond”.

Pameran seni berskala besar tentu dapat menjadi ruang bertemunya seniman, masyarakat dan industri kreatif. Namun, ketika ruang publik milik pemerintah kota digunakan dalam waktu panjang, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: seberapa besar manfaat yang kembali kepada masyarakat dan Kota Surabaya?

Terlebih ARTSUBS bukan sekadar kegiatan seni yang berlangsung sehari. Dengan durasi hampir dua bulan dan tiket reguler yang tercantum Rp100 ribu, aktivitas tersebut memiliki dimensi ekonomi yang cukup besar. Karena itu, transparansi mengenai pemanfaatan aset, penerimaan daerah, pajak maupun dukungan fasilitas pemerintah menjadi hal yang patut diketahui publik.

Pertanyaannya sederhana: berapa rupiah yang masuk ke kas daerah dari pemanfaatan kawasan tersebut?

Apakah Pemkot Surabaya menerima sewa atau retribusi pemanfaatan aset? Apakah terdapat fasilitas atau dukungan pemerintah kota? Jika ada, berapa nilainya? Dan bagaimana pemerintah menghitung manfaat ekonomi kegiatan tersebut bagi masyarakat?

Kecewa Melihat Wajah Alun-Alun Berubah

Kekhawatiran terhadap perubahan wajah ruang publik juga disampaikan Amar Bachan, salah satu wartawan yang sehari-hari bertugas mencari pemberitaan di lingkungan DPRD Surabaya dan dikenal di kalangan wartawan dengan sebutan “Fraksi Kantin”.

Amar mengaku kecewa melihat adanya perubahan pada bagian depan kawasan Alun-Alun, khususnya terkait kolam yang ditutup untuk kebutuhan kegiatan.

Menurutnya, persoalannya bukan pada keberadaan pameran seni. Ia justru mengapresiasi kegiatan seni yang membawa seniman dan masyarakat ke ruang budaya Surabaya.

Namun, menurut Amar, penyelenggaraan event jangan sampai membuat elemen yang justru menjadi daya tarik kawasan tersebut kehilangan fungsi dan keindahannya.

Saya tidak mempersoalkan pameran seninya. Seni harus tumbuh dan Surabaya memang membutuhkan event seperti ini. Tapi jangan kemudian ruang publik yang sudah bagus justru dikorbankan. Kolam di depan itu bagian dari wajah Alun-Alun. Kalau ditutup, tentu ada rasa kecewa.

Amar menilai, penggunaan ruang publik semestinya memperhatikan kepentingan masyarakat yang datang bukan hanya sebagai penonton pameran, tetapi juga sebagai warga yang ingin menikmati kawasan Alun-Alun.

Orang datang ke Alun-Alun bukan semuanya mau masuk pameran. Ada yang ingin duduk, jalan-jalan, menikmati suasana dan melihat keindahan kawasan. Jadi jangan sampai karena ada event, warga yang tidak ikut event justru kehilangan ruang dan pemandangan yang biasanya bisa mereka nikmati.

Menurut Amar, konsep event seni seharusnya justru bisa menyatu dengan karakter ruang kota. Instalasi dan aktivitas pameran semestinya dirancang agar memperkaya pengalaman masyarakat tanpa menghilangkan elemen utama kawasan.

Kalau memang konsepnya seni dan ruang, justru bagaimana seni itu menyatu dengan ruang publik. Jangan sampai ruang publiknya yang kalah. Kalau kolam ditutup, kemudian kawasan berubah total, pertanyaannya apakah setelah acara selesai semuanya dikembalikan seperti semula? Itu juga harus jelas.

Halaman:

Tags

Terkini