“Ini juga harus dikawal untuk dibuatkan perda inisiatif sehingga bisa menambah PAD,” kata Buleks.
Namun ia menekankan perlunya kajian agar pengaturan tersebut tetap mempertimbangkan kondisi eksisting serta hubungan yang harmonis antara pemerintah dan pengembang.
Air Keruh: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah kualitas air baku. Buleks meminta agar rantai tanggung jawab tidak berhenti pada PAM Surya Sembada ketika masyarakat menerima air dengan kualitas yang bermasalah.
Menurutnya, masyarakat mengenal air yang mereka terima sebagai air PAM. Karena itu, ketika terjadi air keruh atau gangguan kualitas, masyarakat secara otomatis mempertanyakan PAM.
Padahal, kualitas air baku berada dalam rantai pengelolaan yang melibatkan lebih dari satu pihak. “Jangan sampai masyarakat diributkan dengan sesuatu hal yang tidak jelas,” ujarnya.
Ia meminta persoalan tersebut dikawal secara serius, terutama ketika terdapat dugaan gangguan kualitas air baku dari sumber sebelum masuk ke instalasi pengolahan.
Gempar Jatim Siapkan Aksi ke PJT I
Zahdi menyatakan Gempar Jatim tidak akan berhenti pada rapat di DPRD. Ia berencana kembali mendatangi Perum Jasa Tirta (PJT) I untuk meminta pertanggungjawaban terkait persoalan kualitas air baku.
Menurut Zahdi, permintaan maaf saja tidak cukup apabila masyarakat kembali menerima air keruh, berbau atau berbusa.
“Bentuk permohonan maafmu apa? Yang mengirim air tangki PDAM, bukan PJT,” katanya.
Ia bahkan menyatakan siap melakukan aksi lebih lama di kantor PJT I apabila persoalan tersebut tidak mendapatkan penyelesaian.
“Insyaallah tujuh hari tujuh malam saya buka tenda di sana,” tegasnya.
Komisi B: Ini Bukan Sekadar Demo
Yuga menilai aspirasi Gempar Jatim justru menjadi masukan bagi DPRD untuk memperkuat pengawasan terhadap PAM Surya Sembada dan pihak-pihak yang berkaitan dengan penyediaan air baku.
Menurutnya, sejumlah persoalan yang disampaikan masyarakat memang bersinggungan dengan pekerjaan rumah yang sedang dibahas DPRD, mulai komunikasi dengan pengelola sumber air, kualitas air baku, hingga tekanan air di sejumlah zona pelayanan.
Untuk wilayah dengan tekanan rendah, menurut Yuga, salah satu solusi yang dibahas adalah pembangunan reservoir. Namun, pembangunan tersebut membutuhkan waktu dan anggaran karena merupakan investasi infrastruktur.
“Ini rumah rakyat. Semua kita terima. Ini juga menjadi otokritik bagi kami bahwa ada yang harus kami perjuangkan,” ujarnya.