daerah

Limbah B3 Viral Seret Nama RSUD Eka Candrarini, dr Michael: Polisi Harus Usut!

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:13 WIB
Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi PSI, dr. Michael Leksodimulyo, MBA., M.Kes., bersama koleganya di komisi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Eka Candrarini (EC), Rabu (26/8/2026),

 

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM – Viral video temuan limbah medis berupa jarum suntik, kemasan obat, dan sejumlah material yang diduga limbah B3 di sekitar pintu Tol Sumur Welut, wilayah perbatasan Surabaya–Sidoarjo, berbuntut serius.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi PSI, dr. Michael Leksodimulyo, MBA., M.Kes., bersama koleganya di komisi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Eka Candrarini (EC), Rabu (26/8/2026), untuk memastikan apakah limbah yang ditemukan di lokasi tersebut benar berasal dari RSUD EC, setelah dalam video yang beredar turut terlihat kantong kertas obat yang mencantumkan identitas rumah sakit.

Dalam sidak tersebut, Michael mengaku mengecek langsung mekanisme pengelolaan dan pembuangan limbah di RSUD EC, termasuk kerja sama rumah sakit dengan perusahaan pengelola limbah B3.

Kami melihat sendiri bagaimana cara pembuangan limbah di rumah sakit ini. Apakah ada kekurangan atau mungkin ada celah sehingga limbah ini masuk ke tempat-tempat publik seperti di pinggir jalan dan lain sebagainya,” ujar Michael.

Menurut dia, sejak awal beroperasi RSUD EC telah memiliki kerja sama dengan PT Wastek Internasional untuk pengangkutan dan pengolahan limbah. Pihak rumah sakit juga menunjukkan dokumen kerja sama tersebut kepada Komisi D.

Dari penelusuran di rumah sakit, Michael menemukan sejumlah perbedaan antara produk medis yang digunakan RSUD EC dengan produk yang ditemukan di lokasi pembuangan.

Yang saya kaget adalah produk yang dibuang di lokasi itu tidak sama dengan produk yang dipakai di rumah sakit ini,” tegasnya.

Ia mencontohkan jarum suntik ukuran 3 cc. RSUD EC, kata Michael, menggunakan produk merek Nipro, sementara jarum suntik yang ditemukan di lokasi merupakan merek OneMed, dengan ukuran yang sama.

Perbedaan juga ditemukan pada jenis obat. Michael menyebut di lokasi terdapat bahan yang berkaitan dengan suntikan KB. Sementara berdasarkan hasil pengecekan Komisi D, RSUD EC tidak melayani suntik KB karena pelayanan tersebut dilakukan di puskesmas.

Di rumah sakit ini kami teliti tadi, tidak menerima pelayanan untuk suntik KB karena itu dilakukan di puskesmas. Di lokasi itu ditemukan adanya bahan suntikan KB,” katanya.

Selain itu, ditemukan pula kemasan antibiotik ceftriaxone. Menurut Michael, produk yang digunakan RSUD EC berbeda dengan produk yang ditemukan di lokasi. RSUD EC menggunakan produk dari PT Dexa Medica, sedangkan produk yang ditemukan disebut memiliki merek berbeda.

Atas sejumlah ketidaksesuaian tersebut, Michael meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada kesimpulan bahwa limbah tersebut berasal dari RSUD EC hanya karena ditemukan kantong obat yang mencantumkan identitas rumah sakit.

Oleh sebab itu saya menyimpulkan bahwa hal ini perlu diteliti oleh pihak kepolisian. Di mana terjadi pencemaran nama baik dari rumah sakit tempat ini. Yang kedua harus dicari motifnya itu apa,” tegasnya.

Kantong Kertas Obat Bukan Bukti Limbah Berasal dari RSUD EC

Michael juga menyoroti keberadaan kantong kertas obat RSUD EC yang terlihat dalam tumpukan limbah di lokasi. Menurut dia, keberadaan kantong tersebut memang berkaitan dengan RSUD EC, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh limbah medis di lokasi berasal dari rumah sakit tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini