SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Sistem desil kemiskinan kembali memunculkan persoalan. Di balik angka dan klasifikasi kemiskinan yang tersusun rapi di atas kertas, ada warga yang justru kehilangan akses terhadap bantuan. Bahkan, seorang mahasiswi berprestasi dengan IP hingga 4,0 kini terancam tidak bisa melanjutkan kuliah.
Hal itu diungkapkan Imam Syafi'i, anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Partai NasDem, setelah menemui sejumlah warga yang mengaku terdampak kebijakan penentuan kemiskinan berdasarkan desil 1 hingga 10, Selasa (4/8/2026).
Dalam sistem tersebut, semakin mendekati desil 1 berarti semakin miskin, sementara semakin mendekati desil 10 menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.
Pagi itu, Imam bertemu tiga warga yang menghadapi persoalan berbeda, namun memiliki benang merah yang sama: akses bantuan pemerintah terhambat oleh status desil.
Dua warga ditemuinya sebelum rapat di Kantor Dinsos Pemkot Surabaya, Jalan Arief Rahman Hakim.
Pertama, Ririn, warga Gubeng Airlangga. Status desil keluarganya berubah drastis, dari desil 2 menjadi desil 6.
"Akibatnya, anak saya yang pertama tidak bisa mendapat beasiswa. Dia putus asa tidak mau kuliah. Padahal dia diterima di Uinsa," ungkap warga Gubeng Airlangga ini sedih.
Ririn merupakan janda dengan tiga anak. Sejak suaminya meninggal, ia bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan.
Kasus serupa dialami Menik, warga Jojoran, Gubeng. Ia memprotes keluarganya yang tercatat dalam desil 6. Padahal, dirinya telah tiga tahun pensiun sebagai guru TK, sementara suaminya kini menganggur setelah terkena PHK.
"Lha kok saya masuk desil 6. Saya ingin diturunkan desilnya," terang warga Jojoran Gubeng yang diantar suaminya ke kantor dinsos.
Persoalan desil itu bukan sekadar angka. Bagi Menik, status tersebut menyangkut masa depan anaknya.
"Kalau desilnya di atas 5, anak saya tidak bisa dapat beasiswa. Padahal dia harapan kami satu-satunya," sambung ibu yang tinggal di rumah kontrakan.
Putra tunggalnya kini duduk di kelas 2 SMK 5, sekolah favorit dengan masa studi empat tahun.
"Kami tidak mampu membiayainya sampai lulus," katanya lirih.
Sore harinya, Imam bersama Ketua NasDem Muda Musyafa Mia Kurniati mendatangi rumah Dian, mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berusia 19 tahun yang tinggal di kampung padat penduduk kawasan Wonokromo.