NAWACITAPOST.COM – Anggota Komisi A DPRD Surabaya dari Partai Gerindra, Azhar Kahfi, menyampaikan pandangannya terkait upaya mitigasi bencana dalam menghadapi musim penghujan dengan intensitas cuaca ekstrem yang meningkat.
Kepada media, Senin (9/12), Azhar mengapresiasi langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya, namun ia menekankan pentingnya penguatan dan optimalisasi upaya tersebut.
Azhar menjelaskan, BPBD telah memetakan empat potensi bencana yang menjadi perhatian utama, yaitu banjir, angin puting beliung, pohon tumbang, dan potensi bencana air rob.
Baca Juga: Wisata Religi Makam Mbah Bungkul Morat-Marit, Pemkot Tutup Mata!
"Teman-teman di BPBD sudah memberikan langkah mitigasi yang cukup bagus, tinggal dioptimalkan, terutama dalam menghadapi potensi banjir rob yang sudah terjadwal," katanya.
Ia menambahkan bahwa kesiapan personel dan alat untuk proses evakuasi saat bencana perlu terus ditingkatkan. "BPBD harus memastikan kesiapan SDM, terutama di daerah rawan bencana, dengan menambah posko atau bekerja sama dengan instansi lain seperti Satpol PP dan Dinas Lingkungan Hidup," jelasnya.
Terkait momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang bertepatan dengan musim penghujan, Azhar menekankan perlunya sinergi antarinstansi, termasuk aparat kepolisian, Satpol PP, dan BPBD, untuk kesiapsiagaan penuh.
Ia juga mengimbau masyarakat memanfaatkan layanan command center 112 yang aktif 24 jam untuk melaporkan kejadian darurat.
Baca Juga: Komisi A DPRD Surabaya: Undangan Rapat Pansus bukan undangan Yasinan
Selain itu, Azhar mengajak warga Surabaya untuk mengutamakan liburan di dalam kota guna menghindari risiko cuaca ekstrem.
"Liburan di dalam kota dapat dimaksimalkan dengan kegiatan positif seperti silaturahmi antarwarga, kegiatan edukatif, atau olahraga elektronik (e-sport) bagi generasi muda," ujarnya.
Azhar juga menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana melalui kerja bakti, terutama untuk membersihkan lingkungan dan merapikan pohon-pohon tua yang rawan tumbang.
"Beberapa kampung telah melakukannya dengan baik, dan ini menjadi contoh positif. Kampung yang belum tergerak perlu didorong dengan pemahaman bahwa lingkungan mereka adalah rumah mereka," tegasnya.