Majalengka, NAWACITAPOST.COM – Secara mengejutkan masyarakat dihadapkan pada keputusan yang diambil oleh Pemerintah Pusat tentang diresmikannya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Sabtu, (03/09/22) pukul 14.30 WIB.
Baca Juga : Pengemudi Ojol Padang Keluhkan Naiknya Harga Pertalite
Hal itu tak ayal mendapat sorotan dari berbagai macam pihak, salah satunya ialah dari Anggota DPR RI Fraksi PKS, Nurhasan Zaidi menilai bahwa keputusan yang diambil pemerintah sangat tidak tepat.
"Kenaikan ini bukan hanya berdampak pada inflasi yang akan bergerak naik dan terus meninggi, tetapi juga akan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia, Zhalim!," ujar Nurhasan Zaidi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (03/09/2022).
Anggota DPR RI Komisi 7 itupun menilai bahwa dengan kondisi Bangsa dan Negara pasca pandemi Covid-19 terjadi inflasi yang cukup besar. Sehingga, dengan adanya kenaikan BBM bersubsidi justru akan berdampak pada harga bahan pokok lainnya.
"Kita faham benar bahwa pemerintah hari ini terbebani dengan subsidi BBM dari APBN yang cukup besar, tapi bukan begini caranya. Masih banyak alternatif solusi yang bisa diambil, jangan rakyat yang jadi korban, ini bahaya karena jelas kenaikan BBM hingga 30% ini akan jadi penyebab utama naiknya harga komoditas lainnya, masyarakat merana. Untuk itu jelas sikap kita, Tolak kenaikan harga BBM, terutama yang bersubsidi," ungkapnya.
Politisi PKS itu menjelaskan kebijakan kenaikan tarif BBM disiang hari seperti mimpi buruk disiang bolong. Ironisnya presiden berkali-kali mengatakan akan menjaga agar BBM utamanya BBM Penugasan bersubsidi tidak akan naik, ternyata PHP.
Nurhasan Zaidi yang juga Ketua Umum PP PUI itupun memberikan catatan, selama kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah terjadi kenaikan harga BBM sebanyak 7 kali.
"Kita punya catatan bahwa paling tidak 7 kali dimasa presiden sekarang BBM naik, pahitnya kenaikan hari ini saat masyarakat baru akan bangkit dari Imbas Pandemi dan ancaman inflasi tanpa kenaikan BBM pun sedang menghantui," tandasnya.