Senin, 20 Juli 2026

Tradisi Nyorog : Ajang Silaturahmi Antar Keluarga Di Betawi

Photo Author
Tantitamara, Nawacita Post
- Rabu, 27 April 2022 | 16:02 WIB
nawacitapost.com
nawacitapost.com

Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Umat Islam di Indonesia tumbuh dalam balutan tradisi Nusantara, Tradisi yang dijaga dari generasi ke generasi. Ketika datangnya bulan ramadhan, atau idul fitri serta hari besar lainnya umat islam di berbagai daerah di Indonesia menyambutnya dengan tradisi yang kurang lebih sama namun berbeda pada namanya. Salah satu tradisi yang ada adalah nyorog.

Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi menyambut bulan suci Ramadan atau Idul Fitri bahkan momen sakral lainnya. Kegiatan yang dilakukan dalam tradisi nyorog adalah berbagi bingkisan makanan ke sanak saudara dan keluarga yang tinggalnya berjauhan. Biasanya kalangan muda akan menghantarkan berbagai macam barang, termasuk makanan dan buah-buahan, serta bingkisan lainnya.

Sementara itu, bingkisan makanan yang dikirimkan dalam tradisi nyorog ini berupa kue-kue, atau bahan makanan mentah seperti gula, susu, kopi, sirup, beras, ikan bandeng dan daging kerbau. Terkadang bingkisan nyorog juga berupa makanan khas Betawi yang dimasukkan ke dalam rantang, misalnya sayur gabus pucung.

Tradisi ini dilakukan sebagai tanda penghormatan dari orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua. Biasanya dilakukan oleh anak muda atau pasangan yang  baru menikah ke orang tua mereka masing-masing.

Melansir dari merdeka.com, nyorog sendiri berakar dari  tradisi ‘Sedekah Bumi’ dan ‘Baritan’. Keduanya merupakan ritus upacara adat yang menyimbolkan refleksi antara interaksi manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada sang pencipta.

Sebelum agama Islam masuk ke ke Pulau Jawa, masyarakat sering membawakan makanan untuk sesajen yang akan dipersembahkan kepada Dewi Sri atau lambang kemakmuran. Kegiatan tersebut kemudian ungkapan rasa syukur kepada setiap rezeki yang sudah didapatkan manusia (sekarang kalangan muda).

Setelah datangnya Islam, nyorog diartikan sebagai upaya penghormatan dan silaturahmi kepada orang yang lebih tua atau para sesepuh kampung yang dihormati. Adapun sumber lain yang menyebutkan tradisi ini telah dilakukan masyarakat Betawi sejak tahun 1800-an. Tradisi tersebut diperkenalkan para wali saat menyebarkan ajaran Islam.

Editor: Tantitamara

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini