"Untuk bahan makanan semuanya Swadaya dari lingkungan, seperti lele, tempe, dan urap-urap. Artinya ada yang membawa beras, ada yang membawa sayuran, juga lauk seperti lele dan tempe dan sebagainya," ujar Dwi.
Dwi menjelaskan, yang berkesempatan makan tidak hanya dari lingkungan pertigaan atau Pertheloen saja maupun komunitas Salam Aeeem, dari RW atau RT juga berkesempatan ikut makan hingga puas dan kenyang.
Baca Juga: Mengenal Megibung, Tradisi Makan Bersama Di Bali
"Tak hanya itu tetangga Desa ataupun orang yang melintas juga berkesempatan makan seadanya, dan bebas tidak dipungut biaya alias gratis," terangnya.
Menurut Dwi mengatakan, biasanya disiapkan nasi sekitar 5 kilogram, dan untuk hari ini kayaknya lebih dari 5 kilogram, yang pasti targetnya habis hingga tinggal wadahnya saja.
"Untuk sayur biasanya pakai daun singkong, daun pepaya, juga jantung pisang atau ontong terus dibikin urap, setiap mengadakan makan bersama selalu tidak ketinggalan urap, hanya hari ini pakai terancam timun dikarenakan waktu sudah terlalu malam dan tidak sempat untuk memasak sayurnya," pungkasnya.
Diakhir acara makan bersama mereka kompak mengucapkan salam komunitasnya yaitu "Salam Aeeem Pertheloen".
Artikel Terkait
Kapolsek Tualang dan Koramil 10 Perawang makan bersama dalam rangka bersenergi TNI-POLRI Sekaligus Memeriahkan HUT Ke-75 TNI
Mengenal Megibung, Tradisi Makan Bersama Di Bali
Acara Tasyakuran HDKD ke-77 dan Makan Bersama Seluruh Pegawai Rutan Kelas IIB Sipirok Kanwil Kemenkumham Sumut
Lima Tahun Mengabdi, ASN Lapas Kelas IIB Padangsidimpuan Kanwil Kemenkumham Sumut Gelar Acara Syukuran dan Makan Bersama
Momentum Presiden Jokowi Makan Bersama Prabowo Subianto di Istana
Terungkap! Ternyata Begini Cara Jennie BLACKPINK Lunasi Tagihan Makan Bersama Teman-Teman
Lapas Kelas III Gunungtua Kanwil Kumham Sumut Menggelar Makan Bersama Merayakan Hari Idul Fitri 1445 H