Sabtu, 18 Juli 2026

Rp13 Miliar Proyek Puskesmas Bermasalah, Komisi D Ancam Blacklist Kontraktor

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Selasa, 23 Desember 2025 | 18:59 WIB
Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), William Wirakusuma (Nawi)
Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), William Wirakusuma (Nawi)

NAWACITAPOST.COM — Komisi D DPRD Kota Surabaya menyoroti keterlambatan serius pembangunan Puskesmas Pegirian dan Puskesmas Manukan Kulon yang hingga akhir 2025 belum juga rampung. Temuan tersebut terungkap saat inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan pertengahan Desember lalu.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), William Wirakusuma, menyatakan bahwa keterlambatan ini menunjukkan persoalan mendasar, bukan sekadar teknis pelaksanaan, melainkan juga lemahnya perencanaan sejak awal.

“Kemarin kami sidak dan menemukan pembangunan dua puskesmas, di Manukan Kulon dan Pegirian, itu mundur dari waktu yang sudah ditentukan. Ini sudah diadendum, sudah diberi perpanjangan waktu, tapi ternyata masih molor lagi,” ujar William di kantor DPRD Surabaya, Selasa (23/12/2025).

Pegirian Telat, Manukan Kulon Bermasalah

William menjelaskan, pembangunan Puskesmas Pegirian yang dikerjakan PT Java Kosmik Perkasa dengan nilai sekitar Rp8 miliar seharusnya selesai dan diserahterimakan pada akhir November 2025. Namun hingga melewati tenggat, pekerjaan belum tuntas meski sudah mendapat tambahan waktu 15 hari.

“Sudah diberi perpanjangan 15 hari, tapi ketika kami sidak kembali pada 16 Desember, progresnya masih belum selesai,” tegasnya.

Sementara itu, proyek renovasi Puskesmas Manukan Kulon senilai sekitar Rp5 miliar yang dikerjakan CV Reno Abadi asal Kota Malang juga mengalami keterlambatan, sekaligus menyisakan persoalan serius pada desain bangunan.

Ruang TB Tanpa Ventilasi, Parkir Terlalu Sempit

Menurut William, Komisi D menemukan sejumlah ruang vital yang tidak memenuhi standar layanan kesehatan. Salah satunya adalah ruang pelayanan tuberkulosis (TB) di Puskesmas Manukan Kulon.

“Ruang TB itu tidak ada ventilasinya. Benar-benar ruangan tertutup, tidak ada pencahayaan. Kalau masuk, lampu mati, gelap gulita. Ini jelas tidak sesuai standar ruang perawatan kesehatan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak hanya tidak layak, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan pasien.

“Itu mempengaruhi kesehatan pasien, terutama pasien TB. Mereka justru jadi semakin terisolasi dan menyeramkan karena tidak ada pencahayaan dan ventilasi,” lanjutnya.

Di Puskesmas Pegirian, persoalan lain muncul pada fasilitas parkir dan akses evakuasi pasien.

“Tempat parkirnya terlalu kecil. Padahal tenaga kesehatannya sekitar 30 sampai 40 orang. Kalau masing-masing bawa kendaraan, sudah penuh. Belum pengunjung,” jelas William.

Tak hanya itu, akses tangga menuju ruang perawatan di gedung lama juga dinilai sangat tidak representatif.

“Tangganya sempit, cuma muat satu orang. Bagaimana kalau ada pasien yang harus dipapah, digendong, atau diangkat pakai tandu? Itu sangat menyulitkan,” tandasnya.

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini