NAWACITAPOST.COM – Aksi protes besar-besaran santri di Surabaya mencapai puncaknya, Kamis (16/10/2025). Puluhan santri dari berbagai pondok pesantren dan badan otonom Nahdlatul Ulama menyegel kantor Trans7 yang berlokasi satu gedung dengan Bank Mega di Jalan Yos Sudarso.
Penyegelan dilakukan setelah tuntutan massa terhadap Trans7 tak direspons. Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan atas tayangan stasiun televisi tersebut yang dianggap melecehkan pesantren dan para kyai.
“Alhamdulillah, hari ini kami sudah mengambil keputusan dan berhasil menyegel Bank Mega hingga tuntutan kami dipenuhi,” ujar Assyiqun, koordinator aksi, di lokasi.
Assyiqun menegaskan dua tuntutan utama massa. Pertama, CEO Trans7, Chairul Tanjung, diminta sowan ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri sebagai bentuk tanggung jawab moral. Kedua, boikot total terhadap Trans7 di seluruh Jawa Timur hingga permintaan maaf disampaikan secara terbuka.
“Kami minta yang datang itu bosnya langsung, bukan perwakilan. Kalau tidak diboikot, mereka akan terus meremehkan kami,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan ini telah mencuat sejak 13 Oktober, namun hingga kini belum ada itikad baik dari pihak Trans7. “Kami tidak ingin bertindak seperti ini, tapi karena sudah berhari-hari tidak ada respons, kami merasa dilecehkan,” tambahnya.
Assyiqun juga menegaskan, para santri siap menghadapi konsekuensi hukum dari aksi tersebut.
“Kami siap menanggung risikonya. Siapapun yang menghina Kiai dan pesantren, bagi kami itu harga mati. Kami akan bela sampai akhir,” ujarnya dengan lantang.
Aksi penyegelan ini turut didukung anggota DPRD Surabaya, antara lain Tubagus Lukman Amin, Muhaimin, dan Muhammad Saifuddin. Mereka menyatakan kekecewaan mendalam terhadap isi tayangan Trans7 yang dinilai sebagai framing jahat terhadap dunia pesantren.
“Mereka tidak pernah datang ke pesantren, hanya mengedit cuplikan seenaknya. Ini penghinaan terhadap martabat Kiai dan santri,” kata Tubagus Lukman Amin, anggota Komisi A DPRD Surabaya.
Sementara itu, Muhaimin menyebut tindakan Trans7 sudah keterlaluan.“Hati kami robek. Santri disebut diperbudak, Kiai diremehkan. Kalau pesantren dihina, jawabannya satu: lawan!” serunya disambut pekikan takbir dari massa.
Muhammad Saifuddin bahkan memimpin pembacaan “Ikrar Santri Indonesia” di tengah lautan massa.
“Kami santri Indonesia bersumpah bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Kami santri bersumpah berbangsa satu, bangsa yang cinta keadilan,” ucapnya penuh semangat. ***