NAWACITAPOST.COM – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Surabaya, Ajeng Wira Wati, menggarisbawahi pentingnya perhatian serius terhadap kesehatan mental perempuan. Menurutnya, di tengah masyarakat urban seperti Surabaya, tekanan sosial yang dihadapi perempuan masih cukup tinggi.
"Masalah gender tidak hanya menyangkut kesetaraan, tapi juga berdampak ke kesehatan mental perempuan. Ini yang sering luput dari perhatian," ujar Ajeng pada Sabtu (20/4).
Ia menilai bahwa budaya patriarki yang masih kuat di lingkungan sosial turut menyumbang beban psikologis yang dirasakan oleh banyak perempuan. Dalam konteks ini, perlindungan terhadap perempuan tak hanya sebatas fisik, tetapi juga mental dan reproduksi.
Baca Juga: Arjuna Rizky: Surabaya Ramah Investasi, Tapi Tegas Lindungi Pekerja!
Ajeng menyampaikan bahwa DPRD Surabaya tengah menggodok dua regulasi penting yang berorientasi pada perlindungan perempuan. "Keduanya diharapkan bisa maksimal melindungi perempuan, baik dari sisi fisik, mental, maupun reproduksi," jelas Ajeng, merujuk pada Perda Inisiatif Perempuan dan Raperda Kesehatan Ibu dan Anak.
Sebagai anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ajeng juga menekankan pentingnya edukasi terkait hak-hak perempuan sejak dini. Edukasi mengenai menstruasi, kesehatan reproduksi, hingga perlindungan bagi ibu menjadi perhatian khusus.
"Mulai dari edukasi menstruasi, hak kesehatan reproduksi, hingga perlindungan terhadap ibu. Semua harus dipikirkan," tambahnya.
Menurut Ajeng, pendekatan holistik dalam kebijakan publik menjadi kunci. Pemerintah kota, katanya, harus memberikan pelayanan yang layak dan menjamin perempuan mendapatkan hak-haknya secara utuh.
Tak hanya berhenti pada pembuatan regulasi, Ajeng juga menekankan pentingnya implementasi yang menyentuh langsung masyarakat. "Saya harap Kota Surabaya menjadi terdepan untuk ramah perempuan dengan terpenuhinya perda dan fasilitas perlindungan perempuan," ujarnya.
Di momentum Hari Kartini ini, Ajeng berharap Surabaya bisa menjadi pelopor kota ramah perempuan di Indonesia, tempat di mana perempuan merasa aman, didengar, dan diberdayakan secara nyata. ***