Sabtu, 18 Juli 2026

Napak Tilas Sejarah dan Karakter Kewijayakusumaan: Pondasi Utama Pendidikan Mahasiswa Baru UWKS

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Minggu, 6 Oktober 2024 | 13:37 WIB
Napak Tilas Mahasiswa Baru UWKS di Candi Penataran, Kabupaten Blitar Jawa Timur, Sabtu (5/10/2024) (Nawi)
Napak Tilas Mahasiswa Baru UWKS di Candi Penataran, Kabupaten Blitar Jawa Timur, Sabtu (5/10/2024) (Nawi)

NAWACITAPOST.COM – Pemahaman tentang sejarah dan karakter merupakan aspek penting dalam proses pengenalan kampus bagi Mahasiswa Baru (MABA) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).

Hal ini disampaikan oleh Kepala Protokol UWKS, Andi Aruji, S.E., M.Agr., dalam kegiatan napak tilas mengenang sejarah berdirinya UWKS serta pengenalan karakter atau jati diri Kewijayakusumaan yang diikuti oleh 200 mahasiswa baru UWKS angkatan 2024-2025, pada Sabtu (5/10/2024) di Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto.

Kepada para mahasiswa baru, Andi Aruji mengulas kembali perjalanan berdirinya UWKS yang diprakarsai oleh tiga tokoh Jawa Timur, yaitu almarhum H. Soenandar Prijo Soedarmo, almarhum Blegoh Soemarto, dan H. Moch. Said. Pada era 1970-an, pemerintah saat itu masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang memadai.

Baca Juga: Seminar Nasional Kusuma III di UWKS: Refleksi Budaya Kemajapahitan untuk Indonesia Emas 2045

“Pada 31 Mei 1980, ketiga tokoh tersebut membentuk Yayasan Wijaya Kusuma yang beralamat di Jalan Progo No. 12, Surabaya, dengan akta notaris No. 256 tahun 1980,” jelas Andi.

"Satu tahun kemudian, tepat pada 19 Juni 1981, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya resmi berdiri," tambahnya.

Kepala Protokol UWKS, Andi Aruji, S.E., M.Agr., saat memberi wawasan Kemajapahitan kepada Maba UWKS di Pendopo Agung Trowulan Mojokerto, Sabtu (5/10/2024) (Nawi)

Andi Aruji menegaskan bahwa ketiga pendiri UWKS, melalui dedikasi dan perjuangan mereka, telah meletakkan fondasi yang kuat bagi UWKS untuk menjadi lembaga pendidikan unggul yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

Menurutnya, ada lima nilai utama yang patut diteladani dari para pendiri, yaitu: kepekaan sosial yang tinggi, selalu berkarya, peduli terhadap lingkungan, melestarikan budaya, serta setia pada dharma.

Baca Juga: Ramona Frisca dan Naufal Syafawi dilantik sebagai ketua DPM dan Presiden BEM FK UWKS 2024-2025. Dekan: Belajar berorganisasi tanpa melupakan Akademik

Andi, yang pernah menjadi ajudan para pendiri UWKS, juga menjelaskan bahwa nama almamater UWKS diambil dari Raden Wijaya, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit. Sementara, lambang almamater diambil dari Candi Brawijaya, juga dikenal sebagai Candi Ganesha, yang terletak di kompleks Candi Penataran, Kabupaten Blitar.

“Semboyan UWKS, Anggung Wimbuh Linuwih, dirumuskan oleh para sesepuh yayasan dan universitas sebagai bagian dari visi dan misinya,” ujar Andi.

Sebelum berakhir di Pendopo Agung Trowulan, mulai pagi para mahasiswa terlebih dahulu diajak mengunjungi lokasi bersejarah di Jalan Progo No. 12 Surabaya, yang menjadi tempat awal berdirinya UWKS sekaligus penerimaan mahasiswa baru yang pertama. Selanjutnya, mereka dibawa ke Candi Penataran di Kabupaten Blitar untuk mendalami sejarah dan semangat kebangsaan, sebagai bekal dalam mengemban tugas di masa depan.

Di Pendopo Candi Penataran, Ir. Dedy Endarto, seorang pemerhati budaya Jawa Timur, mengungkapkan bahwa pendirian UWKS merupakan hasil perenungan mendalam dari ketiga tokoh yang juga merupakan jenderal purnawirawan TNI AD. Mereka tergerak untuk membangun lembaga pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul, seperti halnya Sekolah Tinggi Kerawitan Wilwatika dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Halaman:

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini