Kamis, 4 Juni 2026

Peringati Hari Ibu, RKI Surabaya Ajak Orang Tua Antisipasi Child Grooming

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Senin, 23 Desember 2024 | 15:36 WIB

Oleh: Novita Ratna A

NAWACITAPOST.COM – Dalam rangka memperingati Hari Ibu, Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Surabaya kembali menggelar diskusi IG Live dengan tema yang sangat relevan di era digital: “Peran Ibu dalam Mencegah Child Grooming pada Anak”. Kegiatan yang diadakan pada Minggu sore ini mengundang perhatian para ibu di Surabaya dan sekitarnya, dengan menghadirkan Bunda Sinta Yudisia, seorang psikolog remaja dan penulis, sebagai narasumber, serta dipandu oleh Kak Atiek, seorang trainer dan penggiat pengembangan diri.

Acara ini menjadi pengingat bahwa peran ibu di zaman modern tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam melindungi mereka dari ancaman dunia maya. Salah satu ancaman yang kini semakin marak adalah child grooming.

Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan oleh predator seksual untuk mendekati, memperdaya, dan mengeksploitasi anak-anak, baik secara langsung maupun melalui media digital.

“Child grooming tidak hanya terjadi melalui sentuhan fisik, tetapi juga melalui media sosial dan aplikasi digital. Predator memanfaatkan kebutuhan anak untuk dihargai dan diakui, serta ketidakmampuan mereka untuk mengenali bahaya,” jelas Bunda Sinta Yudisia.

Proses grooming ini memiliki tahapan yang terstruktur. Predator memulai dengan membangun kepercayaan, memberikan perhatian, hingga akhirnya mengeksploitasi korban. Anak-anak usia SD hingga SMA menjadi target utama, terutama mereka yang memiliki kerapuhan psikologis seperti kurang perhatian dari orang tua atau ketidakstabilan emosi akibat lingkungan yang kurang mendukung.

Tanda-tanda Anak Rentan Menjadi Korban Child Grooming

Bunda Sinta menjelaskan beberapa tanda yang dapat menjadi sinyal bahaya:

1. Perubahan perilaku anak, seperti menyendiri, mudah cemas, atau marah ketika aktivitas digitalnya diperiksa.


2. Ketergantungan berlebihan pada gadget, terutama jika anak sering berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal.


3. Kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, termasuk belajar dan bermain.


4. Ketakutan untuk berbagi dengan orang tua atau keluarga, terutama terkait pergaulannya di dunia maya.

“Ibu harus peka terhadap perubahan ini. Jika anak mulai menyembunyikan sesuatu, itu bisa menjadi tanda ada hal yang tidak beres,” tambahnya.

Halaman:

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini