Kamis, 4 Juni 2026

Pembangunan SDM Menuju Karakter Unggul Melalui Revolusi Mental di Sekolah 

Photo Author
Famati Ndruru, Nawacita Post
- Senin, 31 Oktober 2022 | 15:54 WIB

JAKARTA, NawacitaPost.com - "Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong".

"Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala".

Itulah adalah gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya masih belum tercapai.

Gerakan Revolusi Mental termasuk kedalam agenda Pembangunan Nasional yang dihidupkan kembali oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Di dalam gerakan tersebut, salah satunya adalah Revolusi Mental untuk memperkuat ketahanan, kualitas, dan peran keluarga serta masyarakat.

Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak Perempuan dan Pemuda Kemenko PMK Femmy Eka Kartika Putri mengatakan pelaksanaan gerakan Revolusi Mental dalam sistem sosial memiliki beberapa isu strategis.
"Dalam pelaksanaan Gerakan Revolusi Mental pada bidang sosial ini kita memiliki beberapa permasalahan yang perlu ditangani seperti pernikahan anak, stunting, KDRT, isu ekonomi keluarga, dan sebagainya," ungkapnya saat memberikan sambutan pada FGD Revolusi Mental dalam Sistem Sosial untuk Memperkuat Ketahanan, Kualitas, dan Peran Keluarga Serta Masyarakat di Ruang Rapat Hotel Wyndham Jakarta, pada Rabu (15/12/21).
Masih perlukah generasi muda penerus bangsa ini di Revolusi Mental ? tentu jawabannya sangat perlu.

Karena ternyata masih banyak kejadian-kejadian sporadis yang menunjukkan terjadinya tawuran anak-anak muda di jalan, antar warga, antar sekolah dan juga antar kesebelasan sepak bola. Penggunaan Narkoba dan pelecehan seksual, kehamilan remaja diluar nikah, masih banyak terjadi dan dalam kawasan yang luas.

Termasuk dalam dunia pendidikan, prestasi rata-rata NEM, ASDP juga banyak yang masih rendah walaupun ada yang naik rata-ratanya tetapi tipis dibanding tahun-tahun yang lalu. Para guru juga mengeluhkan banyak siswa-siswi yang masih suka nyontek, dan tidak jujur dalam mengerjakan tugas atau ujian.

Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMP negeri di Kota Jogja memasuki hari terakhir pada Rabu (22/6/2022), dan nilai asesmen standardisasi pendidikan daerah (ASDP) sudah terlihat Andy Juniarso SE,MBA pun sebagai Dosen senior yang telah mengajar di berbagai Universitas di Jakarta, mengevaluasi bahwa kemampuan mahasiswa (lulusan SMA) rata-rata rendah dalam penguasaan hitungan dan bahasa Inggris. Jumlah yang nyontek dalam pengerjaan Tugas dan Ujian pun cukup besar, bisa mencapai 45 %.

Mahasiswa mencoba Dosennya dengan cara mencontek, kalau sang Dosen tidak benar-benar memeriksa dengan teliti, maka mereka merasa “aman” dan melanjutkan kegiatan tidak jujur tersebut. Kecuali apabila Dosennya teliti dan sering menemukan kesamaan dalam jawaban, karena copas dari siswa lainnya, dan diberi penalti nilainya dipotong 50% sehingga dapat dibawah score 60, barulah mereka kapok dan jumlah yang berani nyontek nya turun drastis.

Hanya saja ini pekerjaan yang melelahkan para Dosen, karena harus mengingat benar, penjelasan dari setiap mahasiswanya. Bayangkan kalau anak didiknya ada 150 sampai 300 orang di 10 kelas ? Bukanlah kemampuan yang umumnya dosen biasa bisa kuasai.

Pendidikan karakter siswa juga ternyata tidak lagi seperti dulu? Karena pada Undang-Undang Sisdiknas yang berlaku saat ini, mata pelajaran Pancasila tidak tercantum sebagai muatan maupun mata pelajaran wajib pada kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Dan baru mau diusulkan lagi untuk periode tahun depan.
Apalagi sejak pandemi, pendidikan di kampus2 banyak yang diselenggarakan secara Online, sehingga waktu pertemuan dan iteraksi antara mahasiswa dengan Dosen pendidiknya semakin terbatas dan berjarak. Banyak mahasiswa yang menjalani sesi pengajaran via Online itu hanya melalui HP saja. Itupun kamera bisa di off mode, artinya siswa tidak harus bertemu muka dengan Dosen nya via camera.

Model pengajaran Online masih banyak yang diteruskan setelah pasca pandemi, karena banyak mahasiswa sudah terlanjur “nyaman” menggunakannya. Juga Flexible, karena misalnya kuliah malam kelas karyawan, mahasiswa bisa belajar di manapun, termasuk di rumah, dikantor, di resto atau tempat umum ataupun private dengan leluasa.

Kemajuan teknologi dan kondisi pandemi, yang memungkinkan pengajaran Online ini juga turut menjauhkan hubungin fisik antara mahasiswa dan Dosennya juga antara siswa dengan Gurunya. Kejauhan ini memberi peluang untuk hal-hal lain, pengaruh-pengaruh buruk lain yang masuk mengisinya.

untuk surving ke mancanegara, Ini suatu Peluang (Opportunity) dan sekaligus Ancaman (Threat). Peluang terbuka lebih luas untuk mendapatkan sumber-sumber ilmu pengetahuan dari berbagai universitas, akademi, perpustakaan, jurnal, artikel, video, hasil riset dan diskusi-diskusi ilmiah yang berbobot. Tetapi juga ancaman informasi-informasi negatif, pornografi, kekerasan dan akses untuk info perdagangan narkoba, seksual dan bentuk gangguan informasi dan tontonan yang amoral dan merusak konsentrasi, merusak fungsi otak dan kesehatan jiwa serta fisik para siswa & mahasiswa yang terjerumus kepada hal-hal negatif yang menarik darah muda pada umumnya.

Terbukanya “dunia maya” memerlukan partisipasi proaktif dari para Guru dan Dosen, untuk juga terjun kesana, dan memberikan pelajaran dan pengajaran serta sharing ilmu pengetahuan, sharing kebaikan-kebaikan, sharing pelajaran karakter building yang menarik dan berbobot bagi para siswa dan anak didik mereka.

Tanpa kesigapan para Guru dan Dosen, dan pihak pemerintah Pusat maupun Daerah, yang proaktif dan gencar untuk terjun ke Dunia Digital ini, maka penulis memprediksi akan bahaya dekadensi moral dan disrupsi kerusakan karakter serta mental dari lebih banyak anak bangsa yang akan terjerat serta terjerumus kepada kehidupan yang tidak baik, kepada pengaruh-pengaruh buruk yang merugikan diri si anak tersebut, juga pada akhirnya kepada masyarakat dilingkungan tersebut.

Untuk itulah NawacitaPost.com dan Nawacita TV terus gencar menyebarkan informasi serta berita-berita dan podcast yang berbobot, yang berguna serta yang mendidik bagi seluruh lapisan masyarakat. Termasuk untuk ikut berkontribusi dalam melakukan pendidikan Karakter Bangsa, National Character Building ….dalam rangka turut mensukseskan program REVOLUSI MENTAL yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi.

Penulis:
Andy Juniarso SE,MBA.

Editor: Famati Ndruru

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini