NAWACITAPOST.COM – Alarm tanda bahaya ekonomi nasional berbunyi nyaring dari timur Indonesia. Melemahnya nilai tukar Rupiah yang sempat terlempar ke atas Rp18.000 per Dolar AS, berpadu sempurna dengan lonjakan harga BBM non-subsidi, menciptakan efek domino yang mencekik daya beli masyarakat.
Melihat situasi yang kian genting, Iwantonius Miha Njurumana aktivis mahasiswa sekaligus penggiat politik asal Nusa Tenggara Timur (NTT), melayangkan kritik tajam dan menuntut aksi nyata.
Baca Juga: Fajar Baru Keadilan di Meranti: Duet Maut Kantor Hukum Ikhwan, S.H. dan LBH CCI Siap Babat Habis Ketidakadilan!"Pemerintah harus hadir! Ini bukan sekadar angka di atas kertas pasar keuangan, ini adalah urusan perut rakyat," tegas Iwantonius, pada Jumat (12/6/2026).
Efek Domino: Dari Kurs Dolar ke Piring Makan Rakyat
Iwantonius membongkar realita pahit di balik melempemnya mata uang Garuda. Ketika Rupiah tak berdaya, biaya impor dan ongkos produksi otomatis meroket. Celakanya, beban berat ini tidak dipikul oleh para pemangku kebijakan, melainkan langsung dihantamkan ke pundak masyarakat kecil dan pelaku UMKM.
Kondisi ini diperparah oleh tusukan kedua: kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax.
-
Biaya Distribusi Meroket: Kenaikan BBM langsung memicu lonjakan tarif transportasi.
-
Harga Pangan Melambung: Efek berantai (multiplier effect) memastikan harga kebutuhan pokok di pasar ikut terkerek naik.
-
Masyarakat Rentan Terjepit: Kelas menengah dan bawah dipaksa bertahan di tengah badai pengeluaran yang tak sebanding dengan pendapatan.
Sinergi atau Mati: Menuntut Transparansi dan Taji Pemerintah
Menyoroti perdebatan panas mengenai efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), Iwantonius menilai ego sektoral harus segera diakhiri. Menghadapi turbulensi global tidak bisa lagi menggunakan cara-cara parsial atau setengah hati.
-
Sinergi Total: Pemerintah dan BI wajib menyatukan kekuatan fiskal dan moneter dalam satu komando yang komprehensif.
-
Buka Kartu: Pemerintah dituntut transparan dan jujur mengenai kondisi ekonomi riil, bukan sekadar memberikan janji manis.
-
Benteng Perlindungan: Harus ada jaring pengaman sosial yang konkret untuk melindungi kelompok masyarakat paling rentan.
"Jangan Panik, Tapi Tetap Awasi!"
Di akhir orasinya, Iwantonius menyerukan agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan massal atau spekulasi liar yang justru bisa memperkeruh stabilitas pasar. Namun, ketenangan bukan berarti bungkam.