NAWACITAPOST.COM — Langit di atas markas Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kian mendung pekat. Enam bulan pasca-terbitnya SK Menteri Hukum terkait susunan pengurus hasil rekonsiliasi pada 6 Oktober 2025, bukannya ketenangan yang didapat, partai berlambang Ka’bah ini justru dihantam badai internal yang meluluhlantakkan struktur organisasi dari pusat hingga ke akar rumput.
Dinamika pasca Muktamar X kini telah bertransformasi menjadi palu godam yang menghancurkan stabilitas internal partai. Kebijakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP di bawah komando Ketua Umum Mardiono dan Wakil Sekjen Jabbar Idris memicu gelombang protes keras setelah keputusan berantai untuk memberhentikan pengurus daerah meledak secara masif.
Rekor Kelam: "Tsunami" Pemecatan di 12 Provinsi
Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), M Thobahul Aftoni, membongkar fakta mengejutkan yang menyebutkan bahwa partai tengah mengalami fenomena "pembersihan" besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari 600 pengurus di tingkat wilayah (DPW) dan cabang (DPC) dicopot secara sepihak.
Baca Juga: GEGER! Jusuf Kalla Buka Kartu: Bongkar Masa Lalu Jokowi hingga Tudingan Skenario Ijazah
Aftoni memaparkan daftar wilayah yang terdampak "tsunami" politik ini mencakup bentangan luas dari barat hingga timur Indonesia:
- Sumatera: Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu.
- Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.
- Jawa: Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.
- Sulawesi & Maluku: Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Maluku.
"Jika dihitung, perkiraan sudah enam ratusan lebih pengurus DPW dan DPC PPP yang diberhentikan atau dipecat secara sepihak oleh DPP PPP. Ada yang Ketuanya saja, ada trio KSB (Ketua, Sekretaris, Bendahara), bahkan ada yang seluruh pengurusnya dibekukan, seperti yang terjadi pada 9 DPC PPP se-Provinsi Maluku," tegas Aftoni dengan nada getir.
MURI Politik: Catatan Paling Berdarah dalam Sejarah Partai
Skala pemecatan ini disebut-sebut sebagai yang paling ekstrem dalam narasi politik modern Indonesia. Aftoni menilai tindakan yang diambil oleh kepemimpinan Mardiono telah melampaui batas kewajaran sebuah organisasi politik.
"Mungkin ini pemecatan pengurus partai terbanyak secara massal sepanjang sejarah politik di tanah air Indonesia. Kalau didaftarkan ke MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia), ini sudah menjadi rekor tersendiri," sindirnya tajam.
Kondisi ini menciptakan luka dalam di tubuh partai. Pasalnya, struktur yang dibubarkan bukan hanya individu, melainkan representasi kekuatan suara konstituen di daerah-daerah kunci yang selama ini menjadi lumbung suara partai.
Misteri di Balik "Pembersihan" Massal
Publik pun bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mendorong Mardiono melakukan langkah drastis yang berisiko melumpuhkan mesin partai tersebut? Saat ditanya mengenai motif utama di balik manuver "berdarah" ini, Aftoni memilih untuk tidak membuka seluruh tabir, namun memberikan sinyal kuat bahwa akar masalahnya sudah menjadi rahasia umum.