Jakarta, NAWACITAPOST - Membangun komunikasi politik lintas parpol, hal yang baik. Itu lah yang disebut "Silaturahim".
Silaturahim sesama parpol membicarakan bangsa dan negara, sama halnya memperkokoh ikatan keberagaman sejati dalam bingkai persatuan.
Merekonstruksi Komunikasi politik
Menurut, Dr.Yuyun Pirngadi dari Yp Institute for Fiscal and Monetary Policy.
Tracing yang dilakukan PKS bernilai konstruktif dan dekonstruktif. Betapa tidak, secara konstruktif PKS memulai babak baru reorientasi politik yang mengedepankan nilai-nilai nasionalisme dan islamisme memiliki ruang abdi yang bisa diblending untuk kepentingan kemajuan bangsa dan negara.
Tak berlebihan, jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan anjangsana politik ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Itu adalah proses pendekatan politik yang sangat konstruktif.
Di sisi lain, PKS pun mendekonstruksi sikap politik yang membelenggu dirinya selama ini terjebak dalam segmented dan terkooptasi dengan persamaan platform politik. Kini, ia mencoba keluar dan berfikir ulang dengan menempatkan dirinya menjadi parpol terbuka yang terbatas.
Yudi memastikan bahwa PKS membaca tanda-tanda zaman dan melihat peluang kekuatan politik 2024 yang dimiliki PDIP patut diperhitungkan, sehingga keinginan bertemu dengan Megawati Soekarno Putri boz PDIP bukan tanpa maksud.
Ini jalan Komunikasi politik dalam membangun kekuatan bersama pada Pemilu 2024.
“PKS melihat ada peluang jika PDIP welcome, pada partai berlambang padi kapas ini masuk koalisi, maka porsi di kabinet 2024 ada titik terang.PKS emoh berkoalisi dengan parpol lusuh, atau parpol yang kalah di pilpres masa lalu.
Krikil-Krikil Tajam
Kendati silaturahim politik antara PKS dan PDIP itu baik, akan tetapi niat PKS itu tidak selalu berjalan mulus. Krikil-krikil tajam akan menghadang yang datang dari elit-elit politik PDIP
Kekewatiran itu tidak beralasan, kendati PKS sebagai parpol oposisi, namun naluri politik tidak ingin ia tertinggal kembali di tahun 2024.
Berbagai komunikasi politik pernah dilakukan yakni, PKS dengan NasDem, PKS Demokrat, dan kini ke PDIP.
Jika PKS menjadi bagian dari koalisi gemuk yg dipimpin PDIP itu, berarti pilpres 2024 tidak adalagi koalisi Nasionalis versus Islam. Yang ada adalah "arus besar kekuatan bangsa beraroma NASILIWET.
Jadi “Sah-sah saja kalau PKS ingin mendekati PDIP untuk membangun komunikasi politik dan membidik kursi pada Pemilu 2024. bebernya.
Editor: Agus Irawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terkini
Rabu, 3 Juni 2026 | 11:32 WIB
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:41 WIB
Kamis, 28 Mei 2026 | 11:42 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 | 23:44 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 | 00:07 WIB
Selasa, 26 Mei 2026 | 21:35 WIB
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:48 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 | 16:07 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 | 09:31 WIB
Senin, 18 Mei 2026 | 14:41 WIB
Minggu, 17 Mei 2026 | 15:44 WIB
Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:45 WIB
Jumat, 15 Mei 2026 | 20:30 WIB
Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB
Sabtu, 9 Mei 2026 | 13:36 WIB
Minggu, 3 Mei 2026 | 17:55 WIB
Selasa, 21 April 2026 | 21:19 WIB
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB
Jumat, 3 April 2026 | 23:29 WIB
Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:23 WIB