Jakarta, NAWACITAPOST- Kebesaran Partai politik tak hanya ditentukan dari nama besar ketua umumnya. Menepis anggapan itu ada benarnya. Fenomena di Indonesia ada ke khusus-an.
Dr.Yuyun Pirngadi dari Yp Institute for Fiscal and Monetary Policy mengatakan, Pemimpin Parpol harus memiliki populeritas personal, kemampuan mengintegrasikan kadernya dan mengagregasikan nilai-nilai budaya organisasi, bahkan visi politik yang diabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara. Yang tidak kalah pentingnya ketua umum parpol harus memiliki isi tas.
Baca Juga: https://nawacitapost.com/nasional/2021/09/14/nasib-koalisi-demokrat-pks-di-pemilu-2024-bergantung-figur-mengkilap
Sebut saja, Partai Solidaritas Indonesia atau yang di kenal dengan PSI. Parpol yang baru pertama kali ikut pemilu ini, lahir dari rahim anak bangsa millenial.
“Segenap arsitek politik PSI ini memiliki visi tentang Indonesia ke depan. Bonus demografi diterjemahkan sebagai pergeseran populasi dan komposisi usia muda, yang harus direspon menjadi peluang dan kekuatan,” kata Yuyun kepada NAWACITAPOST, Rabu (15/9/2021).
Menurut dia, kader-kadernya pun mampu menerjemahkan konsep bangunan demokrasi garis lurus. Merekonstruksi dan mendekontruksi tatanan nilai demokrasi Indonesia yang carut marut menjadi komitmen perjuangannya.
“Nilai-nilai itu bukan butir-butir mutiara yang harus disimpan baik. Akan tetapi, diejawantahkan dalam tindakan konstruktif. Ambil saja contoh, bicara laporan harta kekayaan kadernya yang menjadi anggota dewan perwakilan rakyat di Jakarta Raya. Hasil lembaga survei menunjukkan ada kepatuhan 100 persen terhadap kader kadernya dan itu harus diacungkan jempol,” pungkasnya.
Tak hanya itu, mereka pun kritis dalam anggaran APBD bahkan, berani menguliti program Gubernur yang tidak rasional.
Berbeda dgn parpol lain, kepatuhan kadernya membuat laporan harta kekayaan rata-rata di bawah angka 50 persen.
PSI sebagai sebuah parpol yang memiliki nilai juang dan impian besar tentu membutuhkan pemimpin besar pula, jujur dan dekat dengan rakyat.
“Pilihan jatuh kepada sosok presiden Jokowi. Beliau dianggap pemiliki persaman gerak juang dan visi Indonesia ke depan. Tak berlebihan, segenap jajaran PSI melakukan kerling mata kepada seorang altruistik dan filantropi yakni Jokowi,” tuturnya.
Pertanyaannya kemudian, apakah Jokowi tertarik dengan tawaran PSI itu? Itu soal lain.
Perlu diketahui, Jokowi adalah kader PDIP. Beliau sosok kader yang dibanggakan oleh konstituen Partai berlambang moncong putih. Bahkan, digandrungi lintas parpol.
Jokowi memiliki kemewahan personalitas yg mampu meretas gaya kepemimpinannya yang merakyat menjadi model kepemimpinan Gubernur, Walikota/Bupati hingga Kepala Desa. Ia pun dekat dengan rakyat dan ada dihati rakyat.
Kemewahan itu yang membuat PSI kepincut untuk menjajakan kursi ketua umum partai berlambang bunga mawar ini.
Mimpi besar PSI yang dikomandani Grace Natalie harus direspon positif, manakala Jokowi tak bersedia duduk di kursi ketua umum PSI karena satu dan lain hal.Tetapi isu potitik bernuansa strategis telah dibangun PSI disaat koalisi parpol pendukung Jokowi sibuk menjaga kesinambungan kursi portofolio dalam kabinet.
Celoteh pun muncul sinisme bahwa PSI tengah mencari peluang dan ingin berada di lingkaran kekuasaan. Sebagai parpol papan bawah kegenitan politik perlu dilakukan, ketimbang harus mendekonstruksi kuasa usaha parpol lain dengan cara yang tidak elegan.
Kerja-kerja konstruktif dan positif telah dilakukan PSI, termasuk bertemu beberapa kali di istana dengan presiden Jokowi.
Biarkan harum semerbak mewangi bunga mawar yercium oleh sejumlah elit parpol lainnya yg mencibir.
“Satu hal yang lebih penting, cara pandang kadernya untuk "need for ecievement" telah digelindingkan. Apa yang ada dalam niat baik PSI menjajakan kursi panas ketua umum PSI kepada Jokowi harus dilihat sebagai isu politik biasa saja,” tuturnya.
“Kita perlu belajar menterjemahkan pribahasa "air bersibak, nyiur melambai". Hanya kerjenihan berfikir kader-kader PSI yang bertugas menyebarkan wanginya bunga mawar,” paparnya.
Editor: Agus Irawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terkini
Rabu, 3 Juni 2026 | 11:32 WIB
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:41 WIB
Kamis, 28 Mei 2026 | 11:42 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 | 23:44 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 | 00:07 WIB
Selasa, 26 Mei 2026 | 21:35 WIB
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:48 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 | 16:07 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 | 09:31 WIB
Senin, 18 Mei 2026 | 14:41 WIB
Minggu, 17 Mei 2026 | 15:44 WIB
Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:45 WIB
Jumat, 15 Mei 2026 | 20:30 WIB
Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB
Sabtu, 9 Mei 2026 | 13:36 WIB
Minggu, 3 Mei 2026 | 17:55 WIB
Selasa, 21 April 2026 | 21:19 WIB
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB
Jumat, 3 April 2026 | 23:29 WIB
Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:23 WIB