Baca Juga : SBY The King of Mangkrak?
Anehnya, bukan Jokowi yang mengatakan, melainkan pendukung Jokowi yang menyentil soal kasus Bank Century dan asuransi Jiwasraya. SBY tak mau disalahkan. "Kok, menyalahkan saya." Begitu penggalan kata yang diucapkan ayah dari AHY dan Ibas. Itu belum kasus wisma atlet Hambalang, dan lain-lain.
Tak sampai disitu, SBY memasukan orang (baca : Partai yang berkiblat ke Ikhwanul Muslimin) kabinetnya sampai 4- 5 pos menteri. Hasilnya, di Pilpres pasca SBY terjadi polarisasi yang amat kental menguat. Politik identitas terjadi secara masif. Pilkada Jakarta 2017 berasa Pilpres mengemuka dengan nempelnya penguatan politik identitas. Diperparah saat Pilpres 2019. Bukan hanya memunculkan istilah Kadrun dan Cebong, melainkan sudah adanya garis pemisah yang benar-benar putus.
Bahkan, hal tersebut menyasar pada pasangan suami istri. Dimana suami kadrun dan istri cebong atau sebaliknya.
Para kelompok yang menggaungkan politik identitas. Ternyata ada dalam lingkup pemerintah. Walaupun bukan cakupan Menteri, dibawahnya. Sebut pejabat eselon 11, pejabat BUMN serta Direktur Utara RRI kabarnya terpapar paham radikalisme.
Kembali soal korupsi SBY. Benarkah kabar yang terdengar. Pesta pora terjadi di kabinet SBY? Ada yang mengatakan dengan adanya OTT. Namun, ada yang mengatakan, masih perlu ditelusuri.
Yang jelas dan pasti. Sepuluh (10) tahun SBY sebagai Presiden. Tak ada prestasi yang dibanggakan. Malah, kini kabar korupsi di eranya, mulai dibongkar oleh mantan orang dekatnya di partai Demokorat.