Baca Juga : Eks Pembela Utama SBY : Ibas Cukup Duduk Dibonc engan Jangan Nyinyir
Ketika Jokowi diberi gelar tersebut oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UI. Ucapan pertama Kakek dari Jan Ethes ini, bahwa itu hak demokrasi setiap warga negara, termasuk mahasiswa. Artinya Jokowi tak melarang, bahkan yang memberi gelar tak pandir tersebut, meminjam sebutan aktivis Media Sosial Ade Armando. Tetap bisa kuliah seperti sekarang ini alias tidak dipecat.
Kemudian ketika Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Uness) memeberi gelar ke Wapres KH Ma'ruf Amin. Mahasiswa tersebut juga masih bisa kuliah alias tidak dipecat. Malah netizen memberi gambar seorang mahasiswi lulusan Uness anak seoarang penarik becak yang berprestasi d luar negeri di era Jokowi dan Maruf Amin.
Kalau Ruhut Sitompul alias si Poltak Raja Minyak. Saat menjadi 'anjing penjaga utama' Cikeas terutama SBY. Gonggongan dan raungan membela tuannya bernama SBY terdengar kencang nyaringnya. Gigitannya membuat lawan SBY semakin terpojok. Kebanyakan gongongan Ruhut inisiatif dari dirinya (baca : tentu tuannya SBY senang). Namun, apa yang didapat Ruhut, hanya sebatas sebagai penjaga utama Cikeas. Tak pernah menikmati duduk manis di Kabinet. Rasa terima kasih Cikeas terutama SBY kepada Ruhut hanya habis manis sepah dibuang.
Tragisnya, Cikeas melalui Deputi Balitbang Demokrat, Yan Harahap, merespons soal kritikan Politisi PDIP Ruhut Sitompul terhadap dirinya. Yan lantas memberikan sindiran menohok kepada Ruhut. Politisi Demokrat ini bertanya kepada netizen soal gelar baru yang pantas disematkan kepada Ruhut. Yaitu The King of Penjilat Penguasa?
Seharusnya gelar tersbeut juga berlaku kepada SBY. Netizennya menyebutnya The King of Mangkrak. Ya, Wisma Atlet Hambalang bernilai triliunan rupiah, mangkrak. Hanya beronggok rongsokan belaka.
Jalan Tol, bendungan di kampung halamannya, Pacitan. Tak pernah dikerjakan. Malah SBY sibuk dengan menyelesaikan musem SBY - Ani bernilai 9 miliar rupiah, anggarannya (baca : APBD) minta ke pemerintah provinsi Jawa Timur dan dititipkan dananya di Bupati Pacitan yang ternyata masih ada pertalian saudara. Karena viral di medsos, anggaran sebesar itu dikembalikan lagi.
Yang jelas SBY saat menjabat Presiden pembangunan untuk rakyat tak lebih dari 10 persen. Tetapi jika itu untuk kelompok dan keluarganya. Bisa dibilang 100 persen dikerjakan dan selesai. Bahkan rumah di Kuningan untuk pribadinya, diakalin lewat perpres saat dirinya menjadi Presiden. Dan harus dilaksanakan oleh Jokowi.
Ya boleh dibilang, SBY itu berhutang kepada negara luar. Tetapi tak ada yang dikerjakan proyeknya alias mangkrak. Beda dengan Jokowi, berhutang juga kepada luar negeri. Ribuan kilometer jalan tol selesai dikerjakan. Puluhan bendungan termasuk di Pacitan dikerjakan dan diselasaikannya. Bahan Bakar Minyak satu harga di Papua.
Yang pasti, proyek yang dikerjakan Jokowi selalu selesai dan banyak manfaatnya bagi rakyat Indonesia alias tidak ada yang mangkrak.