Baca Juga : Masuk 20 Besar Dunia Berpengaruh, Presiden Jokowi Tetap Rendah Hati
Namun, ada saja sekelompok orang yang menamakan PA 212 ngotot dan memaksa kegiatan nonton bareng atau nobar film G 30 S PKI dilapangan terbuka. Sebenarnya, alasan utamanya bermuatan politis. Serangannya ke Jokowi. Lengser dan mundur jadi presiden itu kemauan utama mereka.
Padahal, pemerintah melarang rakyat berkerumun. Tujuannya untuk menekan penyebaran covid tidak sampai meluas. Hal itu juga merupakan bentuk kasih dan sayang pemerintah kepada rakyatnya.
Sepertinya kegiatan nobar ini merupakan pengiringan opini bernuansa birahi politik yang dihembuskan kelompok yang terpapar ingin berkuasa dengan cara tak elok dan tak pantas.Bahkan, tak tanggung-tanggung Gatot Nurmantyo seorang yang pernah menjabat sebagai panglima TNI menitahkan nobar dilapangan terbuka dan tempat umum lainnya, Malah keangkuhan dan kesombongan yang dipertontonkan.
Untung saja, Presiden Jokowi memecatnya sebagai Panglima TNI sebelum waktunya dia pensiun di tentara. Mereka ini teriaknya lantang menyebut PKI. Katanya, komunis itu sudah menyusup dan ada di legislatif serta eksekutif. Begitu diminta menunjukan siapa orangnya mereka bingung dan tak tahu.
Situasi Covid 19, mereka bukan menolong rakyat yang terkena dampak pandemi virus ini. Yang ditunjukan adalah nobar dan deklarasi KAMI di tempat terbuka dan dihadiri kerumunan orang diluar ketentuan yang berlaku.
Mereka ini sengaja ingin melawan pemerintah dengan tujuan menimbulkan kerusuhan di tengah masyarakat. Sehingga dengan mudahnya mereka ini mengatakan bahwa kakek dari Jan Ethes, Sedah Mirah Nasution, La Lembah Manah, dan Panembahan Al Nahyan Nasution tidak bisa menyelesaikan masalah. Maka harus di jatuhkan. Namun, Jokowi mampu mengatasinya dengan baik dan benar. Lalu, apakah memenjarakan atau menghukum mereka yang mencoba ingin melengserkan dari kekuasaannya. Tidak dan tidak akan pernah mantan Gubernur Jakarta mengeksekusi hal itu atau cukup anak buah Jokowi yang mempersilahkan Gatot Nurmantio untuk teriak terus, jika hal itu baik