Jumat, 5 Juni 2026

Budiman Sudjatmiko Sebut Pertemuan Jokowi dan Surya Paloh, Sinyal Politik atau Renungan untuk Masa Depan?

Photo Author
Ade Nawacita, Nawacita Post
- Sabtu, 24 Februari 2024 | 18:22 WIB
Budiman Sudjatmiko (foto: dok)
Budiman Sudjatmiko (foto: dok)

NAWACITAPOST.COM - Pernyataan Budiman Sudjatmiko mengenai pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, beberapa hari lalu menjadi bahan perbincangan menarik dalam ranah politik nasional.

Menurutnya, pertemuan ini tidak terkait dengan koalisi pemerintahan yang akan dipimpin oleh Prabowo-Gibran pada tahun 2024 mendatang.

"Ini enggak ada hubungannya dengan koalisi pemerintahnya Prabowo-Gibran, itu kewenangannya Pak Prabowo selaku presiden nantinya setelah dilantik," kata Budiman kepada awak media di Jakarta, belum lama ini.

Baca Juga: Gatot Nurmantyo Berharap Pertemuan Megawati dan Jusuf Kalla Dorong Hak Angket Pemilu 2024

Budiman menegaskan bahwa kewenangan untuk membentuk koalisi pemerintahan selanjutnya akan menjadi tanggung jawab Prabowo, selaku presiden nantinya setelah dilantik.

Dia menduga bahwa komunikasi antara Jokowi dan Nasdem lebih berkaitan dengan kelancaran koalisi hingga akhir masa jabatan presiden.

"Wajar saja Pak Jokowi kemudian memanggil ketua umum partai seperti misalnya nanti Pak Jokowi mengundang ketum Gerindra Pak Prabowo, ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum Ibu Megawati ketum PDIP," katanya.

Baca Juga: Takziah ke Rumah Almarhum Penyelenggara Pemilu di Kota Serang, Pj Gubernur Al Muktabar Berikan Pelayanan Adminduk

Namun, Budiman juga menyoroti bahwa Jokowi tidak memiliki kewenangan untuk mengatur pemerintahan Prabowo-Gibran. Koalisi pemerintahan yang akan datang sepenuhnya menjadi wewenang Prabowo.

Dalam narasinya, Budiman mengingatkan bahwa kekuasaan Jokowi akan melemah setelah Oktober 2024, dan politik yang dinamis saat ini menimbulkan potensi bahwa Jokowi bisa terlupakan dan kehilangan relevansinya.

Dia menunjukkan bahwa meskipun Jokowi saat ini berkuasa, kekuasaannya akan berakhir pada suatu saat, dan mungkin dia akan mengalami apa yang disebut sebagai "post-power syndrome" – rasa takut dan kekhawatiran kehilangan kekuasaan setelah lengser dari jabatan.

Baca Juga: Desttinasi Wisata Nuansa Riung Gunung Bandung, Rasakan Berlibur di Hamparan Perkebunan Teh yang Memesona

Artikel ini menimbulkan pertanyaan tentang dinamika politik dan psikologi kekuasaan yang kompleks, dan mengajak pembaca untuk merenungkan tentang masa depan politik Indonesia.

Bagaimana menurut Anda, apakah pertemuan antara Jokowi dan Surya Paloh hanya merupakan sinyal politik belaka, ataukah juga mengandung renungan mendalam tentang perjalanan politik di masa yang akan datang?

Editor: Ade Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB