Kamis, 4 Juni 2026

Jelang Pilpres, Kenaikan Elektabilitas PDIP dan Gerindra Paling Banyak

Photo Author
Tim Redaksi, Nawacita Post
- Sabtu, 12 Januari 2019 | 14:27 WIB
Jakarta NAWACITA – Menjelang pelaksanaan pemilihan Presiden dan anggota legislatif, sejumlah partai politik tercatat mengalami kenaikan elektabilitas.

Hasil survei yang dilakukan lembaga Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menunjukkan kenaikan elektabilitas beberapa parpol diantaranya PDIP, Gerindra, PKB, PSI dan Partai Berkarya.

Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam siara pesnya menyampaikan, hasil survei pihaknya menunjukan, di antara lima besar parpol, PDIP dan Gerindra paling banyak mengalami kenaikan elektabilitas. Kenaikan tersebut bisa disebabkan oleh efek ekor jas maupun manuver yang dilancarkan elite-elite partai.

Ia menyebutkan, elektabilitas PDIP meningkat dari 23,1 persen pada survei periode November 2018 menjadi 25,7 persen. Sedangkan Gerindra naik dari 12,3 persen menjadi 14,7 persen dalam kurun waktu yang sama.

"Kenaikan elektabilitas PDIP dan Gerindra tidak mengherankan, mengingat kedua parpol adalah pengusung utama calon presiden dan calon wakil presiden,” kata Vivin, Jumat (12/1).

Sementara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), lanjutnya, relatif stabil pada kisaran 7,3 hingga 7,5 persen. PKB diketahui memiliki hubungan erat dengan basis Nahdlatul Ulama (NU) dan sosok calon wakil presiden (cawapres) Ma’ruf Amin.

“Namun relasi itu masih belum berdampak signifikan mengerek elektabilitas capres pasangannya, Jokowi, karena mesin kampanye PKB dan Kiai Ma’ruf tampak belum sinkron,” ungkap Vivin.

Sedangkan Golkar, kata dia, mengalami penurunan paling dalam, dari sebelumnya 12,8 persen menjadi tinggal 9,8 persen.

“Penurunan juga dialami Demokrat yang melemah dari 5,4 persen menjadi 4,6 persen,” ucapnya.

Menurut Vivin, tidak terwakilinya Golkar dan Demokrat dalam pasangan calon presiden (capres) dan cawapres, memberikan sumbangsih atas penurunan tersebut. Dia mengatakan, ketidakterwakilan itu menjadikan semangat caleg-caleg di basis suara turut merosot.

Vivin mengungkapkan, pemilu yang berjalan serentak kali ini lebih banyak didominasi wacana pertarungan Pilpres. Dia melanjutkan, di antara strategi yang dilakukan, Golkar merekrut Tuan Guru Bajang (TGB) yang sempat digadang-gadang sebagai capres, sedangkan manuver Andi Arief dapat dibaca kaitannya dengan menjaga elektabilitas Demokrat.

Sementara partai baru masuk katagori yang elektabilitasnya berada di papan menengah ke bawah, Vivin menyebutkan, yang paling mengalami kenaikan adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Berkarya.

"PSI naik dari 1,2 persen menjadi 2,3 persen, sedangkan Berkarya dari sebelumnya hanya 0,1 persen menjadi 0,8 persen," ungkap Vivin.

Menurut Vivin, baik PSI maupun Berkarya mengandalkan strategi melontarkan isu-isu kontroversial untuk mendapatkan efek elektoral.
PSI, misalnya kata dia, memanfaatkan isu-isu sensitif seperti Perda Syariah, poligami, hingga ucapan selamat Natal. Sedangkan Berkarya menjual Soeharto sebagai Bapak Pembangunan pada era Orde Baru.

Diketahui, survei indEX Research dilakukan pada 15-24 Desember 2018, dengan jumlah responden 1200 orang. Metode survei adalah multistage random sampling dengan margin of error ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Editor: Tim Redaksi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB