NAWACITAPOST.COM – Aksi dramatis percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Achmad Hidayat, mantan Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, mengejutkan banyak pihak. Kejadian yang berlangsung di halaman Kantor DPC PDI Perjuangan, Jalan Setail, Jumat siang (18/7/2025), bukanlah tindakan spontan, melainkan puncak dari konflik internal yang panjang dan penuh tekanan politik, intrik personal, hingga pengkhianatan komitmen dalam tubuh partai.
Dalam pernyataan tertulisnya yang dirilis Sabtu dini hari, Achmad mengungkapkan isi hatinya secara blak-blakan. Dia menyebut semua itu dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pembusukan nilai dan marwah partai yang ia yakini kini telah dikotori oleh ambisi kekuasaan oknum tertentu.
Achmad memulai pengakuannya dengan menyebut bahwa dirinya telah menjadi bagian dari lingkar dalam Armuji, sejak yang bersangkutan masih menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.
“Saat pendaftaran Pilkada 2020, visi dan misi yang diketik itu saya. Bahkan syarat-syarat administratif pun saya yang bantu susun. Pada masa kampanye, saya disuruh cari dana sendiri buat konsumsi dan elektone. Katanya: ‘Itu duit cilik mosok awakmu gak isok’,” ungkapnya.
Dia tidak berhenti di situ. Bahkan saat Armuji jatuh sakit setelah dilantik sebagai Wakil Wali Kota Surabaya, Achmad mengaku melakukan meditasi dan doa di pantai selatan demi kesembuhan Armuji.
“Saya membawa air untuk beliau yang dirawat di RSUD dr. Soetomo. Itulah bentuk totalitas saya,” katanya.
Achmad mengungkapkan bahwa pada November 2022, pasca Armuji pulang dari umrah, ia diajak berbicara empat mata.
“Beliau bilang ingin periode kedua sebagai Wakil Wali Kota, anaknya jadi pimpinan komisi DPRD, dan urusan partai biar diurus kader muda. Namanya disebut: Adi Sutarwijono,” ujarnya.
Pertemuan ditutup dengan doa dan minum air zamzam, diiringi candaan Armuji, "Malaikatku sik jangkep 40 iki mat".
Namun janji itu, kata Achmad, kemudian dilanggar sendiri oleh Armuji. Pada Februari 2025, menjelang keberangkatan umrah, Armuji kembali mengutarakan niat untuk maju sebagai Ketua DPC PDIP Surabaya. Achmad menolak.
“Saya ingatkan komitmen November 2022. Tapi beliau bilang, ‘Perjanjian gak onok buktine, gak onok videone’. Bahkan saya diancam bakal diudal-udal kalau gak dukung,” ungkapnya.
Penolakan itu menjadi awal dari tekanan demi tekanan. Achmad dibebastugaskan sebagai pengurus DPC pada 2 Mei 2025. Namun menurutnya, prosesnya janggal.
“Surat pemecatan dibuat sepihak oleh Plt Ketua, Yordan Batara Goa. Tanpa rapat, tanpa lewat sekretariat. Ini bukan cuma pemecatan administratif, tapi pembunuhan karakter,” jelas Achmad.
Tidak hanya itu, muncul pula intimidasi ke pengurus-pengurus yang mendekatinya.