NAWACITAPOST.COM - Peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Kudatuli adalah tragedi berdarah yang tidak hanya memilukan, tetapi juga memalukan dalam sejarah politik Indonesia. Kantor DPP PDI Pro-Megawati (Promeg) di Jalan Diponegoro No. 58, Jakarta, diserbu dan dihancurkan oleh pendukung kubu Soerjadi, dengan dukungan penuh aparat kepolisian dan militer.
Namun, luka kemanusiaan yang mendalam itu sebenarnya telah dimulai jauh sebelum Kudatuli. Beberapa bulan sebelumnya, insiden kekerasan terhadap para pendukung Megawati juga terjadi di Surabaya. Salah satu korban dalam insiden itu adalah seorang warga Sidotopo Wetan, Kecamatan Simokerto, bernama Hari Setyawan, atau yang akrab dijuluki Hari Vietkong.
Saat itu, Hari bersama puluhan aktivis Promeg lainnya menghadang rombongan Soerjadi di Bundaran Juanda, Surabaya. Mereka menolak kehadiran Ketua Umum PDI versi pemerintah tersebut yang hendak melakukan konsolidasi di Jawa Timur.
Baca Juga: Dari Bung Karno ke Wong Cilik: Semangat Kurban PDIP Surabaya Jadi Simbol Pengabdian
Setelah berjam-jam bertahan, rombongan Soerjadi akhirnya lolos dari kepungan menggunakan kendaraan militer. Ketegangan memuncak. Para pendukung Promeg melayangkan protes keras kepada aparat. Namun, tak ada titik temu.
Menjelang sore, suasana berubah drastis. Aparat militer mulai bergerak agresif, membubarkan massa dengan paksa menggunakan tongkat kayu. Para pendukung Megawati berhamburan menyelamatkan diri. Hari apes. Ia tertinggal dan berhasil ditangkap oleh sejumlah prajurit muda. Tubuhnya menjadi sasaran kekerasan brutal—dipukuli dan dikeroyok hingga sekujur tubuhnya penuh memar.
Hari sempat dibawa ke markas militer, sebelum akhirnya dibebaskan setelah proses negosiasi yang alot oleh rekan-rekannya: Agus Hariyanto (kelak menjabat Sekretaris DPC PDI Promeg Surabaya) dan Nanang Sutrisno (yang kemudian menjadi Komca Genteng). Mereka segera membawanya ke Rumah Sakit Bhayangkara di Jalan Kombes M. Duryat, tempat Hari dirawat selama beberapa hari.
Selama masa perawatan, Agus Hariyanto kerap membelikan nasi goreng atau mi goreng dari Pasar Kedungsari untuk dinikmati bersama Nanang dan Sukadi, anggota Satgas yang ikut berjaga.
Pada suatu malam, Nanang yang kelelahan akhirnya tertidur di lantai, tepat di bawah tempat tidur Hari. Saat itu Hari siuman dari koma dan merasa segar setelah minum seteguk air putih. Melihat sahabatnya terlelap, Hari iseng menyiramkan sisa air ke wajah Nanang sambil berseru:
"Niat jaga, atau niat tidur?"
Nanang pun terbangun kaget, lalu menukas: "Kamu kurang ajar, Her. Untung tidak aku cabut selang infusmu!"
Baca Juga: Pastikan Tak Ada Konflik, PDIP Surabaya Fokus Reorganisasi Partai
Meskipun jengkel, Nanang tak menyimpan marah, apalagi dendam. Ia tahu betul, Hari sedang dalam kondisi sakit luar biasa, baik secara fisik maupun mental. Tawa kecil itu menjadi semacam penyembuh—sejenak menenangkan luka batin yang mereka alami.