NAWACITAPOST.COM - Para masyayikh pendahulu kita telah mengajarkan kesederhanaan, tirakat, kebersamaan, ta’awun yang menjadi jati diri seorang kader Nahdlatul Ulama (NU). Walau hanya seorang petani, ibu kita dengan ibu teman kita yang berjualan sayur di pasar merasa bersaudara karena anaknya sama - sama aktifis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Begitulah potret persaudaraan dijalin karena sama - sama anaknya aktivis IPNU.
Seorang kader yang dalam keterbatasan karena panen, mereka dikasih beras dari hasil panen, saat anaknya bayar sekolah atau sakit, mereka membantu untuk meringankan beban hidupnya. Sebagai rasa syukur atas hasil panen dan dagangnya yang sukses mereka sowan ke kiai untuk memberikan Sodaqoh uang sebagai rasa syukur.
Baca Juga: Cara Cerdas Menyikapi Polemik PBNU dan PKB
Begitu kuatnya kepedulian dan kasih sayang kader NU zaman dulu, terus ada apa dengan kader NU zaman sekarang??? Kebaikan hati rasanya sudah rapuh oleh kepentingan, uang dan kekuasaan. Kenapa kebaikan hatinya menipis bahkan hilang dari hati para kader - kader NU baik yang muda atau yang tua???
Apakah Allah menarik barokah dalam hidupnya? Apakah ilmu yang di dapat tidak bermanfaat? Apakah kita sudah lupa perjuangan? Apakah semua sudah materialistis? Apakah senang NU hancur kemuliaannya??
Baca Juga: Makna Strategis Warga NU Dalam Pilkada 2024
Sebuah pertanyaan yang begitu menyedihkan!!! Renungkan, semoga jenengan semua menyadari dan merubah untuk kembali pada perjuangan bersama masyayikh NU.
Sekedar bapak / ibu dan sahabat ketahui:
- Untuk sebuah perjuangan banyak pengurus dan kader NU bertanya jika milih Muhammad Muhibbin Nur (Gus Ibin) akan dapat sangu apa tidak??
- Ketika sudah dikumpulkan dan diberi akomodasi mereka masih diam - diam dan diam tidak segera membentuk tim.
- Ada Pengurus Muslimat, Fatayat, Ansor dan lainnya dengan tegas mengatakan, saya sudah punya pilihan sendiri!! Setelah ditelusuri ternyata hanya recehan yang di dapat. Apakah kehormatan Kiai dan NU sebanding dengan uang receh yang diberikan oleh orang yang bukan kader NU!!!
- Kenapa merasa bangga hanya bisa foto dengan orang yang pernah menjadi Bupati dan diberi rukuh atau sarung saat lebaran meluluhkan militansi seorang kader NU???
- Saatnya berfikir rasional dan jangka panjang “Uang 100 ribu hingga 200 ribu yang membuat rusaknya tatanan politik dan masyarakat tidak sebanding dengan perjuangan para kiai dan masyayikh NU ketika memperjuangkan kemerdekaan, mengurus orang meninggal di desa - desa, belajar membaca al qur’an gratisan, ngimami tahlil 7 hari loss, tengah malam minta air doa karena anaknya tidak bisa tidur, bahkan hujan deras harus datang karena ngimami tahlil haul bapak / ibumu.
Baca Juga: Mencari Formula Untuk Menyelamatkan NU Dalam Pilkada 2024
Catatan keprihatinan ini harus menjadi renungan dan bisa merubah cara berfikir bapak / ibu / sahabat dan rekan - rekan. Pemilu kepala daerah 2024 para masyayikh dan kiai NU Nganjuk meminta Muhammad Muhibbin Nur (Gus Ibin) untuk maju sebagai Bupati dengan Aushaf Fajr Herdiansyah sebagai Wakil Bupati.
Untuk menjaga marwah (kehormatan) kiai, masyayikh dan NU Nganjuk, pastikan Muhammad Muhibbin Nur (Gus Ibin) - Aushaf Fajr Herdiansyah menang dalam Kompetisi tersebut.
Baca Juga: Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024
Semoga Allah membuka hati bapak / Ibu / sahabat dan rekan keluarga besar NU Kabupaten Nganjuk!! Aamiin