novel

Mencari Formula Untuk Menyelamatkan NU Dalam Pilkada 2024

Selasa, 25 Juni 2024 | 20:13 WIB
Logo Nahdlatul Ulama (Foto istimewa )

NAWACITAPOST.COM - Pada sebagian warga bangsa semua sudah memahami bagaimana peran politik Nahdlatul Ulama (NU) dalam pergulatan politik nasional atau regional. Semua tegak lurus bahwa menyelamatkan NU dari intrik politik yang membahayakan eksistensi NU dalam membangun dan berjuang di masyarakat adalah sebuah keharusan.

Sikap itu harus dipahami oleh semua perangkat organik NU yang masih banyak diam - diam bermain dalam menyukseskan salah satu calon tertentu. Memang tiupan angin surga untuk membawa NU dalam kancah politik Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) merupakan usaha pemenangan yang membutuhkan cost politik rendah. Namun kita semua harus menghitung benar dampak politiknya akan mempengaruhi perjuangan NU di lapisan masyarakat.

Baca Juga: Potret Perilaku Politik Masyarakat Nganjuk Dalam Pemilu

Maka dari itu untuk menghadapi Pilkada serentak 2024 ini, perlu sebuah pemahaman dan formula yang ideal bagimana menyelamatkan Marwah dan eksestensi NU di tengah intrik politik para calon dan Partai Politik (Parpol). Berikut beberapa pemikiran untuk menjaga Marwah NU dari gesekan politik dalam pemilukada 2024:

HM Basori M.Si penulis artikel (Foto istimewa )

  1. Memahami dengan sepenuh hati bahwa NU adalah organisasi sosial keagamaan yang konsentrasi utamanya adalah membangun umat Islam Ahlus Sunnah Waljamaah (Aswaja), maka harus dijaga untuk tidak melakukan gerakan politik praktis.
  2. Mengembalikan fungsi NU sebagai Gerakan Moral untuk membangun masyarakat sipil yang berdaya baik secara personal maupun jam’iyyah.
  3. Memahami politik kebangsaan NU dengan benar, visi politik NU adalah Visi politik kebangsaan bukan kekuasaan. Bagi NU menjaga Negara dan bangsa jauh lebih penting dari pada hanya kekuasaan sesaat.
  4. Memahami konsep Mabadik Khoirul Ummah NU sebagai pegangan perjuangan di tengah dinamika politik dan perkembangan tehnologi global.
  5. Intrik politik yang dilakukan oleh personal pengurus harus dihindari karena akan merusak citra diri NU sebagai organisasi non politik praktis.
  6. NU adalah organisasi mandiri yang tidak terikat oleh partai manapun, klaim suatu partai terhadap NU tidak bisa dibenarkan. NU memgambil jarak yang sama dengan seluruh partai politik, karena banyak kader NU yang berada di lintas partai politik. Tidak ada dominasi dukungan atau mendukung salah satu partai.
  7. Kader NU bebas memilih calon yang dianggap mampu dan memiliki semangat perjuangan untuk membangun masyarakat dengan berpedoman pada Islam Aswaja.
  8. Seluruh kader NU yang mencalonkan diri dalam Pilkada 2024 bebas melakukan kompetisi terbuka, dengan mengambil dukungan dari warga NU sesuai dengan kreasi dan gagasan yang dimiliki.
  9. Preferensi politik warga NU tak seragam, tetapi beragam. Tak ada komando untuk memilih atau tidak memilih salah satu kandidat. Ketua Umum (Ketum) PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya red) pun berkali-kali mengutarakan bahwa NU bukan partai politik sehingga tak terlibat dalam urusan kandidasi.
  10. Jumlah warga NU yang besar, NU juga memiliki kejelasan soal ideologi dan lebih moderat. Jadi siapapun akan merasa nyaman bekerja bersama dengan NU, maka etika politik para pengurus struktural NU untuk memberi ruang pada warga NU untuk memilih pemimpin sesuai dengan hati nuraninya.
  11. Dalam konteks jam'iyyah NU, pemimpin demokratis harus memiliki sikap toleran terhadap jama'ah, memberikan kebebasan untuk perpendapat dan bersedia untuk bermusyawarah dalam memutuskan suatu perkara. Pemimpin yang pilih oleh warga NU ke depan selain visioner, juga harus memiliki kompetensi dalam pemerintah, kompetensi sosial, etis dan komunikatif.
  12. Konsep pemimpin dalam Islam harus memiliki sifat Siddiq (benar), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Sifat itu berkaca pada empat sifat baik yang dimiliki Rasulullah dalam memimpin umatnya. Maka warga NU akan memiliki wawasan yang komprehensif dalam menentukan pilihannya.

Baca Juga: Bias Perjuang Kader NU di Zaman Now

NU harus di jaga marwahnya, karena NU adalah lembaga pendidikan masyarakat, sehingga tidak boleh rusak gara - gara ambisi para pengurus untuk kepenting sesaat. Kita harus mewariskan sesuatu yang benar kepada generasi muda, agar mereka kedepan bisa menjaga nilai perjuangan NU dengan kuat.

Hanya sebuah catatan sederhana, sebagai guiden para warga NU dalam menentukan sikap politik yang benar di Pilkada 2024. Kemerdekaan politik warga NU yang bertanggungjawab akan merubah nasib pemerintah daerah beserta semua kewenangannya.

 

Nganjuk, 25 Juni 2024
Penulis HM Basori M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy

 

 

 

Ikuti dan dapatkan berita terupdate khusus Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur langsung dari ponselmu, pada situs berita www.nawacitapost.com melalui aplikasi Facebook silahkan klik disini, dan disini juga melalui aplikasi Twitter atau X silahkan klik disini pastikan dua aplikasi tersebut sudah terinstall pada ponselmu

Tags

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB