NAWACITAPOST.COM - Menjadi diri sendiri merupakan suatu hal yang memang harus dimiliki oleh semua orang.
Meski begitu, terkadang ada beberapa orang yang belum mengetahui cara menjadi diri sendiri.
Pada puisi kali ini akan menyajikan puisi tentang diri sendiri supaya lebih bersyukur untuk menerima kelebihan dan kekurangan dari dalam diri.
Baca Juga: Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari
Perlu diketahui, dua puisi berikut ini adalah karya Dienza Agoestha tentang diriku edisi 18 dan 19 Juni 2024:
Aku
Aku bukanlah aku,
Adalah Ia yang tak nampak berjalan di sampingku
Dan yang kadangkala ku lupa.
Ia yang tenang dan diam jika aku berbicara
Ia yang penuh maaf jika aku mendendam
Ia yang berjalan di tempat aku tidak mengembara
Ia yang masih tetap berdiri, jika kelak aku mati.
Nganjuk, 18 Juni 2024
Dienza Agoestha
Baca Juga: Ingin Hidup Lebih Bermanfaat, Jangan Lupa Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 6 Februari
Laki-laki Bercincin Dan Berkalung Batu
Matahari sore terhalang awan tipis,
Pimping kemuning,
Indah menggelincir dari kaki langit.
Seorang laki-laki dengan cincin dan kalung batu di tubuhnya,
Bak jauh di tinggi, siluet elang
Melayang garang,
Matanya merah menyala, nanar;
Mencari mangsa yang alpa.
"Aku laki-laki dengan cincin dan kalung batu di tubuhku,
Aku mencari matahari bukan mencari mimpi!"
"Mana buku,
Mana meja,
Mana kursi,
Yang selalu memenjarakanku?"
Baca Juga: Mau Ungkapkan Rasa Pada Kawan dan Teman, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 9 Februari
"Aku laki-laki dengan cincin dan kalung batu di tubuhku, aku mencari matahari bukan mencari mimpi!"
Jangan hanya beri aku semu harapan!
Jangan hanya beri bayang-bayang!
Karena dari bayang-bayang itulah
Aku akan tahu; ada sinar matahari yang menyorot,
Sehingga berkat kegelapan,
Aku bisa melihat bagian-bagian yang seharusnya diterangi cahaya;
Hal-hal nyata yang harusnya kuterima,
Meski itu bertentangan dengan harapan.
"Aku seorang laki-laki dengan cincin dan kalung batu di tubuh,
Aku mencari matahari bukan mencari mimpi!"
Aku hanya mau mendengar yang pantas didengar,
Aku hanya mau membaca yang pantas dibaca,
Aku hanya melihat yang pantas dilihat,
Aku hanya berpikir yang pantas dipikir,
Aku hanya berbuat yang pantas dibuat,
Dan aku hanya mau hidup dari yang srpantasnya kujadikan kehidupan.
Baca Juga: Tiga Puisi Karya Dienza Agoestha Untuk Kawan yang Menyentuh dan Penuh Makna
Aku laki-laki dengan cincin dan kalung batu itu
Aku tidak memerlukan mimpi,
Aku hanya memerlukan matahari.