Sebuah Catatan Mengenang Hari Lahir Pancasila
NAWACITAPOST.COM - Kalau kita mengingat bagaimana bangsa ini memperjuangkan kemerdekaannya, pasti kita berfikir keras dan serius bagaimana bangsa ini tetap eksis dan berkembang pesat. Karena perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa raga dan harta benda adalah sebuah pengorbanan besar.
Cita - cita pendahulu kita ingin Indonesia akan menjadi tempah singgah anak cucunya, sebagai bangsa yang merdeka, makmur dan berdaulat. Maka kita sebagai penerus wajib sadar dan mengingat perjuangan itu, agar kita bisa menjadi seorang warga negara yang baik.
Baca Juga: Jangan Pernah Silau Dengan Harta dan Kekuasaan
Pancasila adalah Solusi Persatuan Indonesia
Ketika merumuskan dasar negara, para tokoh perumus kemerdekaan Indonesia melakukan debat sengit bagaimana sila - sila dalam Pancasila mengakomodasi seluruh potensi, kekuatan dan keberagaman suku bangsa dan agama. Perdebatan sengit tersebut dilakukan agar semua terakomodasi dalam Pancasila dan menjadikan bagian warga bangsa yang terayomi secara hukum.
Kelima sila dalam Pancasila telah menjadi kesepakatan bersama dan menjadi komitmen berbangsa dan bernegara dengan berbagai kemajemukan yang ada. Nilai luhur Pancasila mencerminkan jiwa dan kepribadian seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari - hari sehingga tercipta rasa persatuan dan kesatuan dalam mengisi kemerdekaan dan membangun Indonesia menjadi lebih maju.
Baca Juga: Apa Kabar PMII Hari Ini ???
Maka jika Pancasila dianggap sebagai doktrin yang salah, bahkan menganggap intervensi negara yang terlalu dalam pada rakyat Indonesia itu sebuah kesalahan besar. Pancasila adalah solusi terbaik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Nilai luhur Pancasila digali dari peradaban luhur bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia, memasukan nilai agama dalam kehidupan sehari hari dan norma sosial yang menjadi pedoman hidup rakyat Indonesia. Jika pemerintah orde baru dianggap salah dalam menjalankan Pancasila, semata - mata faktor manusianya bukan Pancasila-nya.
Rapuhnya Idiologi Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Dengan berjalannya waktu dan atas nama Reformasi, para pemimpin bangsa yang merasa pintar dan hebat membuat keputusan untuk mencabut P4 ( Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ) dalam pelajaran wajib di sekolah. Ada dua alasan kenapa P4 dicabut. Pertama, P4 dianggap sebagai indoktrinasi yang dinilai melanggar HAM. Kedua, Pancasila saat itu menjadi alat politik. Mereka yang tidak sejalan dengan pemerintah dicap sebagai anti Pancasila.
Baca Juga: Sampai Kapan Kartini Indonesia Mengejar Emansipasi!!
Ketika P4 dianggap sebagai alat politik orde baru untuk melakukan operasi politik, karena siapa saja yang tidak sejalan dengan politik orde baru dianggap salah dan harus dihabisi itu hakekatnya pelaku atau manusianya yang salah dalam menerapkan P4. Nilai luhur Pancasila yang ada dalam P4 sangat penting sebagai pandangan hidup rakyat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.
Maka ketika P4 dihapus, para siswa di sekolah semakin rendah pemahaman terhadap nilai luhur bangsa Indonesia yang dijadikan pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan yang mengerikan ada penumpang gelap yang diam - diam memasukkan idiologi baru berupa Khilafah (menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara Islam red) yang jelas tidak senafas dengan budaya dan keragaman masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Ansor dan Dinamika Politik Indonesia
Rakyat dan bangsa Indonesia sekarang ini sedang sakit, rasa nasionalisme semakin menipis, kebebasan berpendapat sudah melenceng terlalu jauh, reformasi pemerintah justru memberikan ruang KKN yang sangat besar, jabatan politik dan birokrasi semua cara memperoleh dengan menggunakan uang, perilaku kapitalis telah menguasai semua lini ekonomi, kesadaran dan kebersamaan masyarakat semakin kecil dan masih banyak lagi yang lainnya.