NAWACITAPOST.COM - Kita semua terlahir dari tidak memiliki apa apa, namun pelan tapi pasti perjalanan hidup akhirnya merubah seseorang menjadi berbagai macam jenis dan bentuk pekerjaan hingga melahirkan sebutan entah itu Petani, Guru, Dokter, ASN dan banyak lagi sebutan lainnya.
Pendidikan keluarga menjadi pondasi utama seseorang untuk membentuk pribadi yang menjadikan seseorang kuat atau lemah. Maka tidak heran jika muncul berbagai bentuk sikap manusia yang berbeda beda.
Baca Juga: Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari
Ada manusia yang kepribadiannnya lemah karena dididik dari kekuarga yang lemah secara pendidikan maupun agama. Ada manusia yang berkepribadian dan relegius karena dididik dengan norma etika dan agama yang kuat, ada manusia yang lepas kendali alias los doll karena memang tidak pernah memdapat pendidikan agama maupun pengetahuan tentang hidup.
Atas kondisi tersebut, maka manusia sering kehilangan orentasi hakekat mereka di hidupkan oleh Allah di dunia. Ada seorang RT yang lupa bahwa di hanya sebagai hamba, ada seorang Kades yang lupa bahwa di hanya sebagai hamba, ada seorang Camat yang lupa bahwa dia sebagai hamba, ada seorang kepala dinas yang lupa bahwa dia sebagai hamba, ada seorang anggota dprd yang lupa bahwa dia hanya sebagai hamba, ada seorang bupati yang dia lupa sebagai hamba dan masih banyak lagi yang lainnya.
Baca Juga: Bicara Demokrasi, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 4 Februari
Jabatan yang hanya label dan sebutan yang sangat tidak prinsip, kalau kita lihat dari hakekat hidup yang sesungguhnya. Dengan jabatan itu mereka merubah pola pikir, pola sikap dan pola hidup.
Mereka merasa sombong dan bangga sesuai kapasitas dan kekuasaan yang dimiliki, hingga mereka kehilangan jati diri sebagai makhluk Allah yang harus berbuat baik dan menjadikan apa yang dilakukan sebagai bentuk pengabdian pada Allah SWT.
Baca Juga: Ingin Hidup Lebih Bermanfaat, Jangan Lupa Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 6 Februari
Mereka lupa dosa, lupa hisab, lupa ada kehidupan setelah mati, bahkan tidak takut dengan neraka. Yang lebih tragis mereka merasa sudah punya kapling surga, sehingga merasa benar dan yang lain salah. Kondisi seperti ini menyelimuti hampir seluruh umat manusia walau kadarnya bermacam macam.
Manusia memiliki insting Ilahiyah disamping insting bahimiyah (mewarisi sifat sifat hewan) dan syaithoniyah (setan). Sesuai dengan konsep iman yang dikemukakan oleh kaum salafiyah (salafiyyun) bahwa al-imanu yazidu wa yanqusu, yazidu bil al-thâ’ah wa yanqusu bi al-ma’shiyah (iman itu akan bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan).
Baca Juga: Mau Ungkapkan Rasa Pada Kawan dan Teman, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 9 Februari
Maka kita harus sering sering mengupgrad kesadaran Ilahiyah agar selalu dalam bingkai kesadaran sebagai Makhluq yang terus berbuat baik, beribadah dengan semangat dan menjadikan kehidupan sebagai persemaian akherat.
Kita harus memotivasi diri dengan merenung (kontemplasi) dan berintrospeksi diri (muhasabah) terhadap semua amal yang telah kita perbuat. Sudahkah kita menunaikan amanah yang diberikan Allah kepada kita atau justru selama ini kita lalai akan amanah itu. Semoga kita selalu dalam hidayahNya. Amin