NAWACITAPOST.COM - Bicara tentang demokrasi saat ini, yuk baca puisi karya Dienza Agoestha Edisi Minggu 4 Februari 2024.
Dua Puisi Sebelum Dan Sesudah
Karena Kampus Belum Berani Bersuara
Demokrasi layaknya sebuah sel,
Jerjak-jerjak sebuah pintu bergemerincing kunci-kunci,
Sesudah itu senyap,
Sunyi lalu mati.
Galau pikiran yang payah,
Lamban bangkit merambah keluar,
Kenangan-kenangan di tahun sembilan delapan yang menyandera,
Tiada di belakangku dan di depan orang lain,
Diam bungkam,
Hingga sinar mentari mengurung roh-roh kami anak negeri.
Baca Juga: Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari
Demokrasi layaknya sebuah sel,
Jerjak-jerjak sebuah pintu bergemerincing kunci-kunci,
Sesudah itu senyap,
Sunyi lalu mati.
Besok, wallahualam.
Karena Kampus Sudah Berani Bersuara
Karena suaramu, kami mulai melihat cahaya nikmat, yang tidak nampak lagi oleh mata kami sendiri.
Dan waktu kami lumpuh, kami beranikan hati memikul beban, karena kami yakin kakimu kuat.
Baca Juga: Puisi Seorang Penyair Yang Belum Selesai
Kami yang tak bersayap, oleh sayapmu terangkat.
Rohmu yang membukakan kami gerbang kebenaran demokrasi
Kau sanggup bikin pipi kami merah dan pasi,
Panas di musim dingin, kelu di tengah hangat.
Dalam kemauanmu, bersemi kemauan kami.
Pikiran dan keberanian kami tentang negeri ini, dadamulah tempat asal-usulnya,
Dan nafasmu, berhembus di setiap kata kami.
Baca Juga: Ungkapkan Kerinduannya, Anak Binaan di LPKA Palu Ciptakan Puisi Untuk Sang Ibu
Nampaknya, imbangan bulan gelitalah kami,
Yang nun di luhur adalah karyamu, yang hanya tertangkap oleh retina mata, semasih kimilau surya merestuinya.
Ach, terima kasih romo, atas ajaranmu; agar kami pantang mempercayai pemimpin yang menjilati ludah katanya sendiri, karena pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa dan menguasai ini negeri.