"Silakan konfirmasi ke bendahara saja, saya mau rapat Zoom," cetus Berti sambil bergegas menghindar.
Baca Juga: Miliaran Rupiah Hak Anak Sekolah Diduga Ditelan ‘Gurita’ Korupsi, APH Diminta Seret Pelaku!
Waka Kesiswaan Ogah Beberkan Nominal Iuran
Kecurigaan publik kian diperkuat oleh pernyataan Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, berinisial EN. Ia mengakui adanya kesepakatan iuran berdasarkan musyawarah komite, namun enggan membeberkan berapa nominal uang yang dibebankan kepada orang tua murid.
"Ada kesepakatan, tapi saya tidak ingat untuk menyampaikan," kilih EN pendek.
Sikap tertutup dari pihak manajemen SMPN 5 Pesawaran ini memicu tanda tanya besar: Apakah Dana BOS yang dikucurkan pemerintah masih kurang besar, hingga sekolah harus memungut iuran siluman yang nominalnya dirahasiakan?
Kesimpulan: Menanti Runtuhnya Tembok Birokrasi yang Tertutup
Dua potret buram pendidikan di Kabupaten Pesawaran ini—misteri laptop gaib Libera senilai Rp6,3 Miliar dan pengelolaan anggaran internal SMPN 5 Pesawaran yang defensif—menunjukkan betapa rapuhnya reformasi birokrasi dan transparansi di wilayah tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran belum memberikan respons resmi terkait laporan LSM GARDA ke Kejaksaan. Bersambung.(AMRULLOH)