news

Skandal "Data Gaib" Padangsidimpuan: Presiden Prabowo Ditipu, Rakyat Dikhianati!

Kamis, 14 Mei 2026 | 13:48 WIB

NAWACITAPOST.COM — Aroma busuk manipulasi tercium menyengat dari balik puing-puing pasca bencana banjir bandang 2025, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Sebuah bom waktu kebenaran diledakkan oleh Sudiryaman tokoh masyarakat sekaligus aktivis kemanusiaan setempat. Ia secara terbuka membongkar dugaan penipuan sistematis yang dilakukan oknum pemerintah daerah demi merampok uang negara di atas penderitaan rakyat.

"Data Fiktif, Anggaran Melejit"

Sudiryaman mengecam keras laporan yang dikirim ke Jakarta, yang mengklaim bahwa 1.133 Kepala Keluarga (KK) mengalami kerusakan rumah kategori Rusak Berat. Angka ini disebutnya sebagai "Data Gaib" yang dirancang hanya untuk menyesatkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

"Saya lahir dan besar di sini. Saya melihat air itu datang. Mengklaim 1.133 rumah rusak berat tanpa ada satu pun yang rusak sedang atau ringan adalah penghinaan terhadap akal sehat! Itu bohong besar!" tegas Sudiryaman, dengan nada bergetar menahan amarah, Kamis (14/5/2026), ketika dikonfirmasi di Desa Manegen, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan.

Baca Juga: Trotoar Adalah Hak Rakyat: Satpol PP Siak Bersihkan Jalan Raja Kecik dari Pelanggaran Estetika Kota

Berdasarkan investigasi lapangan yang dilakukannya, jumlah rumah yang benar-benar hancur (rusak berat) diperkirakan hanya berkisar antara 160 hingga 180 unit. Lantas, dari mana datangnya ribuan sisanya?

Modus Operandi: Menggelembungkan Penderitaan

Dugaan motif di balik "sulap" data ini sangat jelas: Uang. Sesuai aturan, bantuan kategori Rusak Berat mencapai Rp60 juta, jauh melampaui Rusak Sedang (Rp30 juta) atau Ringan (Rp15 juta). Dengan menghapus kategori rendah dan memukul rata semua menjadi "Rusak Berat", anggaran yang cair membengkak hingga miliaran rupiah.

"Ini penipuan terencana! Mereka sengaja menaikkan kategori agar dana dari Presiden cair sebesar-besarnya. Miliaran rupiah selisihnya masuk ke kantong siapa?" ujar Sudiryaman.

Ironi di Balik Pencairan Ratusan Miliar

Fakta yang lebih menyakitkan terungkap: Dana bantuan ratusan miliar tersebut dikabarkan telah cair, namun distribusinya menjadi misteri yang kelam.

Baca Juga: Geger Balai Kota! Plt Wali Kota Madiun Terseret ke Gedung Merah Putih: Benang Kusut Korupsi Madiun Terurai?

  • Warga yang rumahnya hancur lebur justru terabaikan.
  • Warga yang tidak terdampak dikabarkan masuk daftar penerima.
  • Sebagian besar warga hanya bisa gigit jari melihat "pesta pora" di atas kertas laporan.

Tuntutan Berdarah: Seret Pelaku ke Penjara!

Tidak sekadar bicara, Sudiryaman bersama warga menuntut tindakan radikal dari penegak hukum:

  1. Transparansi Mutlak: Buka nama, alamat, dan foto bukti 1.133 rumah tersebut. Jika tidak bisa, itu adalah bukti sah tindak pidana.
  2. Audit Investigatif: Polisi dan Kejaksaan didesak memeriksa pembuat data dan penandatangan dokumen laporan.
  3. Pembersihan Nama Presiden: Jangan biarkan nama Presiden Prabowo dicatut untuk melegalkan kejahatan korupsi.

Baca Juga: Benteng Terakhir di Jantung Minas: LAN Siak Kobarkan Perang Total Lawan Narkoba

Pemkot Bungkam Seribu Bahasa

Hingga berita ini ditayangkan, Pemerintah Kota Padangsidimpuan seolah membeku. Tidak ada klarifikasi, tidak ada bantahan. Bungkamnya pihak berwenang di tengah tuduhan "Data Gaib" ini semakin memperkuat spekulasi adanya konspirasi tingkat tinggi.

"Kami tidak akan diam. Ini soal harga diri dan keadilan. Pelaku rekayasa ini harus diadili seberat-beratnya!" pungkas Sudiryaman di hadapan kerumunan warga yang menuntut hak mereka.

Apakah ini akhir dari drama banjir, atau justru awal dari terbongkarnya megakorupsi bencana di Sumatera Utara? Publik menunggu keberanian aparat hukum.(Lesmanan.H)

Tags

Terkini