Sabtu, 10 Oktober 2026

Selat Sunda Membara, Status Gunung Anak Krakatau Melonjak Jadi Siaga

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Sabtu, 10 Oktober 2026 | 14:59 WIB
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali berstatus Level III atau Siaga sejak Jumat malam, 9 Oktober 2026. (Instagram.com/@potraitlampung)
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali berstatus Level III atau Siaga sejak Jumat malam, 9 Oktober 2026. (Instagram.com/@potraitlampung)

NAWACITAPOST.COM — Potensi bahaya kembali mengancam Selat Sunda. Status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau resmi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
 
Kenaikan status secara mendadak ini berlaku mulai Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB setelah Badan Geologi melakukan analisis komprehensif terhadap lonjakan aktivitas gunung api purba tersebut, yang juga disebarkan melalui akun resmi Instagram @bpbdlampung.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menegaskan bahwa keputusan krusial ini diambil setelah mengevaluasi seluruh data pemantauan visual dan seismik secara menyeluruh.
 

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB," kata Lana kepada awak media.

Menyusul eskalasi ancaman tersebut, Badan Geologi merilis peringatan ketat bagi masyarakat, wisatawan, pengunjung, hingga pendaki.
 
Kawasan berbahaya kini diperluas, di mana siapapun dilarang keras mendekat atau beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat kawah erupsi Gunung Anak Krakatau.

Tak hanya itu, ancaman di pulau baru yang terbentuk di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau juga kian memprihatinkan. Masyarakat diimbau steril dan tidak memasuki area dalam radius 1 kilometer dari pulau baru tersebut.
 

Ancaman mematikan dari perut bumi terus membayangi kawasan perairan ini, mulai dari hujan batu pijar yang membara, paparan abu vulkanik lebat, lelehan aliran lava, hingga bahaya dahsyat dari erupsi sekunder akibat reaksi kontak lava panas dengan air laut maupun air hujan.

"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, dan potensi erupsi sekunder yang ditimbulkan oleh kontak panas lava, baik dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 km dari pusat erupsi Anak Krakatau," ujar Lana.

Meski gunung api di tengah laut tersebut kini dalam kondisi Siaga penuh, Badan Geologi mengimbau warga pesisir pantai Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak panik oleh isu liar mengenai potensi tsunami.
 
Warga diminta tetap beraktivitas normal sembari mematuhi seluruh instruksi dan panduan resmi dari BPBD setempat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini