NAWACITApost.com - Warga RW 011, Jalan Utan Jati, Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat dilanda krisis air bersih selama hampir sepekan. Air yang disuplai PAM Jaya tak lagi mengalir sejak Jumat (8/9/2023).
Ketua RW 011 Muhammad Arif Rahman mengatakan, ada 11 lingkup RT yang terdampak krisis air bersih. Empat RT di antaranya yakni RT 005, RT 006, RT 007, dan RT 010 mengalami krisis air bersih terparah.
"Di sini ada beberapa warga di beberapa RT, yang tidak mempunyai sumur resapan dan air tanah, jadi sangat ketergantungan dengan air PAM tersebut. Kalau air tidak keluar, dia tidak mandi," ungkap Arif, dikutip Kamis (14/9/2023).
Warga juga harus rela mengantre untuk mendapatkan suplai air bersih dari mobil tangki PAM Jaya. Arif menambahkan, tangki air dikirimkan secara bergilir ke setiap RT yang terdampak. Sementara, sebagian warga di wilayah RT lainnya masih mengandalkan alternatif air tanah.
Ketua RT 011, Mulyono menambahkan, apabila warga ingin mendapatkan air bersih maka harus terus meminta mobil tangki air dari PAM Jaya. Ia bertugas untuk menghubungi pengurus RW agar PAM Jaya bisa menyuplai air bersih menggunakan mobil tangki.
"Ya kami harus minta. Misalnya malam order, paling sehari baru dikirim. Kan banyak yang minta, harus pesen dulu," kata Mulyono.
Mulyono Menuturkan, mobil tangki sudah dua kali datang untuk menyuplai air bersih di lingkup RT 011. Namun, tak semua warga mendapatkan air karena harus berebut dengan warga lain.
"Merasa rugilah, kami kan bayar. Harus segera diperbaiki, karena katanya lagi ada perbaikan di Hutan Kota dari jumat," ujarnya.
Dalam sebulan, Mulyono harus membayar air sekitar Rp 50.000-Rp 60.000. Sementara ini keluarganya di rumah memakai air tanah untuk sekadar mencuci ataupun mandi.
Dengan begitu, ia tak terlalu bergantung pada air yang dikirimkan PAM Jaya. "Harus kembali menyala lah (air). Kami mau segera, kalau itu kan buat kebutuhan sehari-hari," jelas Mulyono.
Sementara itu, Warga bernama Sari (39) mengaku keberatan karena tetap harus membayar tagihan meski air mati. Dia merasa dirugikan, lantaran air tak lagi mengaliri rumahnya.
“Iyalah, merugikan banget. Kalau kami enggak bayar (keran) kami disegel. Tetapi tetap bayar,” tutur Sari.
Kini, dia bersama keluarganya terpaksa hanya mandi satu kali sehari. Sebab mereka harus menghemat air. Selain itu, ia juga kerap meminta air tanah milik pengurus RT setempat untuk keperluan mencuci piring.
“Harapannya biar lancar air, jangan kayak begini lagi. Biar enggak rugi juga,” jelas Sari.
Rep: Asri Geto