NAWACITApost.com - Ketua Umum Partai Golongan Karya periode 2004-2009 Jusuf Kalla (JK) pesimistis Prabowo Subianto dapat memenangkan pemilihan presiden (pilpres) 2024. Sebab, menurutnya, koalisi besar tak menjamin kemenangan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres).
Ia lantas mencontohkan pengalamannya, pada 2004 duet pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-JK hanya didukung oleh Partai Demokrat, PBB, dan PKPI. Namun mereka bisa memenangkan Pilpres 2024.
Begitu juga ketika JK berduet dengan Wiranto di Pilpres 2009. Waktu itu, pasangan JK-Wiranto didukung oleh Golkar, Hanura, dan PDK yang punya 21,96 persen kursi di parlemen namun akhirnya hanya memperoleh 18,22 suara
"Tidak ada jaminan, sama dengan saya waktu 2004. Anda masih ingat, mungkin ya itu kita hanya didukung 11 persen partai, tapi menangnya 60 persen," kata JK, Senin (14/8/2023).
Mantan Wakil Presiden (Wapres) RI itu menambahkan, yang akan jadi penentu kemenangan seorang capres-cawapres adalah suara rakyat, bukan dukungan dari partai politik (parpol). Parpol atau gabungan parpol dalam koalisi hanya jadi pengusung capres.
"Yang memilih kan rakyat. Partai yang mengusulkan, yang memilih rakyat. Terserah rakyat bagaimana, rakyat ada yang ikut partainya, ada juga yang tidak. Selama ini begitu," jelas JK.
Karena itu, JK mengingatkan, masyarakat cenderung melihat tokoh yang maju bukan parpol pendukungnya. "Kalau sudah masuk ke pemilu itu, orang tidak lagi melihat partainya. Orang melihat orangnya," ungkapnya.
Sebagai informasi, Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) telah mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) untuk kontestasi Pilpres 2024 pada Minggu (13/8/2023) kemarin. Dukungan Golkar dan PAN jelas menambah amunisi kekuatan kepada Prabowo yang sebelumnya telah menjalin kerja sama politik dengan PKB dan PBB.